Tribun

Pelecehan Seksual

Hindari Pencabulan, Komunikasi Orangtua-Anak Tak Boleh Putus

Kaum remaja, khususnya perempuan, amat rentan menjadi korban pencabulan setelah didahului perkenalan dengan pelaku

Editor: Johnson Simanjuntak
Hindari Pencabulan, Komunikasi Orangtua-Anak Tak Boleh Putus
Dodi Hasanuddin/Warta Kota
Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengunjungi tersangka Pencabulan M (13) siswi kelas 5 SD 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Gopis Simatupang

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kaum remaja, khususnya perempuan, amat rentan menjadi korban pencabulan setelah didahului perkenalan dengan pelaku via jejaring sosial. Hal itu sebenarnya bisa dihindari jika anak-anak perempuan memiliki komunikasi yang baik dengan orangtua.

Hal itu disampaikan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Arist Merdeka Sirait. Dengan adanya komunikasi yang baik antara anak dan orangtua, kondisi emosional anak akan lebih terkontrol, ali-alih curhat dengan pria tak dikenal via Facebook atau jejaring sosial lainnya.

"Ketika hubungan komunikasi anak dengan orang tua sedang terputus, mereka (pelaku,Red) memanfaatkan dan dimasukkan tipu muslihat kepada anak itu. Sebaliknya, jika komunikasi terjalin baik, niscaya anak-anak, khususnya perempuan, akan terhindar dari hal negatif jejaring sosial," ujar Arist, ditemui wartawan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (18/3/2013).

Apakah perlu orang tua memantau anaknya lewat situs jejaring sosial? Menurut Arist, tidak juga. "Itu tidak bisa dilakukan tiap hari. Tapi yang terpenting adalah bagaimana dilakukan komunikasi di rumah, bagaimana menciptakan ketahanan di rumah dengan komunikasi," bilang Arist.

Dikatakan Arist, sangat penting membuat suasana rumah yang nyaman bagi anak. "Membuat rumah yang ramah untuk anak, itu yang harus diciptakan. Tidak perlu kontrol over-protective. Artinya harus ada trust untuk membangun hubungan, relasi yang baik dengan anak," paparnya.

Sistem ketahanan rumah tangga yang rapuh, kata Arist, juga menjadi salah satu penyebab mengapa seseorang tega mencabuli perempuan yang dikenalnya lewat jejaring sosial.

"Sama saja dengan korban. Pelaku juga bisa berbuat jahat (cabul--Red) karena rapuhnya pertahanan rumah. Pendidikan nilai moral sudah tidak ada. Ini juga karena gaya hidup yang membuat anak-anak di luar kontrol. Masalah finansial juga bisa menjadi sebab, ketika kebutuhan di rumah tidak dipenuhi. Lalu juga gaya hidup, dan lain-lain," katanya.

Arist menyerukan agar pihak berwajib menghukum berat pelaku pencabulan agar membuat efek jera bagi calon pelaku lain.

"Itu (pencabulan,Red) kan perbuatan biadab dan di luar akal sehat manusia. Penegak hukum harus lihat juga, apa itu dilakukan dengan berencana atau tidak. Jadi hukumannya harus dengan berat," tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang gadis remaja berinisial N (15), siswi sebuah SMK Swasta di Jakarta Timur, diperkosa 13 pemuda di sebuah lapangan kosong di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin (11/3/2013) lalu.

Awalnya, korban berkenalan dengan seorang pria di Facebook dan keduanya sepakat untuk bertemu secara langsung di sebuah tempat. Namun rupanya pria tersebut datang bersama sekitar 12 orang rekannya dan hal tersebut tak diketahui N, hingga akhirnya belasan pria tersebut memaksa gadis malang itu untuk menjadi pelampiasan nafsu seksualnya secara bergiliran.

Akibat peristiwa itu, N mengalami trauma berat dan harus dirawat di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. Hasil diagnosa tim dokter menunjukkan bahwa korban dalam kondisi penurunan mental akibat trauma, meskipun kondisinya baik. Polisi sampai saat ini telah menetapkan 9 tersangka dalam kasus ini.

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
Klub
D
M
S
K
GM
GK
-/+
P
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas