Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Emon Cenderung Mengidap Pedofilia

Perbincangan dengan Emon berlangsung sekitar 15 menit. Kepada wartawan Rycko mengatakan bahwa dirinya berusaha mengidentifikasi kejiwaan Emon.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Adi Suhendi
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Emon Cenderung Mengidap Pedofilia
(Wartakota/Theo Yonathan Simon Laturiuw)
Emon dengan kepala tertutup saat digelandang polisi di Polres Sukabumi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Emon pelaku kekerasan seksual terhadap ratusan anak di Sukabumi, Jawa Barat sempat berbincang dengan Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Jawa Barat Brigjen Pol Rycko Almeza Dhaniels di ruang Kasubag Sarana dan Prasarana Polres Sukabumi Kota, Selasa (6/5/2014) sore.

Perbincangan dengan Emon berlangsung sekitar 15 menit. Kepada wartawan Rycko mengatakan bahwa dirinya berusaha mengidentifikasi kejiwaan Emon.

"Saya mencoba memverifikasi beberapa hipotesis tentang seseorang pedofilia," kata Rycko seusai berbincang dengan Emon di Mapolres Sukabumi Kota.

Ia mencoba melemparkan beberapa pertannyaan untuk mengetahui sifat Emon, sekaligus mengorek informasi tentang Emon yang juga pernah menjadi korban kekerasan seksual ketika masih duduk di bangku SMP.

Hasil pembicaraannya dengan Emon, dikatakan Rycko diduga kuat pelaku kekerasan seksual terhadap 110 anak tersebut bersifat obsesif.

"Dia obsesif artinya dia mengidentifikasi dari pada calon korbannya. Dia ingin merasakan hal yang sama terhadap korban yang dulu," ungkapnya.

Hal tersebut terus dilakukan Emon sehingga dirinya menjadi pelaku baru setelah sebelumnya menjadi korban. Ditegaskan Rycko apa yang dilakukannya hanya melakukan wawancara terhadap Emon dengan berbekal pengetahuan psikologi di kepolisian.

Rekomendasi Untuk Anda

"Saya hanya ingin memferivikasi apakah hipotesis tersebut terbukti atau tidak, sementara dari hasil wawancara ada arah ke situ. Mengarah ke pedofilia," ujarnua.

Tetapi tentu hal tersebut masih perlu didalami lagi oleh ahlinya yang dimiliki kepolisian seperti dari kedoktoran Polri, psikeater, serta ahli hukum.

"Nanti akan dilakukan identifikasi mendalam untuk menetikan kelainan yang terjadi pada tersangka," ujarnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas