Efek Jahat LSD Yang Dikonsumsi 'Sopir Maut'
Narkoba ini ternyata memiliki beragam efek dan dampak ketika seseorang mengkonsumsinya
Editor: Hendra Gunawan
JAKARTA, KOMPAS.com - Lycergic Alis Diethylamide atau LSD merupakan narkoba berbentuk kertas yang masuk dalam kategori narkotika golongan I. Keberadaannya dilarang dan masuk dalam Undang-Undang Narkotika Nomor 35 Tahun 2009, di lampiran nomor 36.
Barang haram yang 'jarang terdengar' itu kembali muncul dalam kasus tabrakan maut di Jalan Iskandar Muda, Arteri Pondok Indah, Jakarta Selatan, dengan tersangka Christopher Daniel (22).
Hasil tes urine, Christopher positif menggunakan LSD. Narkoba ini ternyata memiliki beragam efek dan dampak ketika seseorang mengkonsumsinya.
Menurut Kepala Bagian Humas Badan Narkotika Nasional (BNN), Komisaris Besar Sumirat Dwiyanto, LSD menimbulkan beragam efek. Penggunaan LSD yakni menempelkannya di lidah kemudian larut. Efek paling nyata dari LSD yakni halusinasi dan juga salah persepsi indera. Dari efek halusinasi, kata Sumirat, si pemakai LSD umumnya akan mengalami disorientasi ruang dan waktu.
"Orang jadi tidak bisa membedakan jarak, masih jauh atau sudah dekat. Misalnya kalau dia mengemudi, sudah dekat tetapi dia masih injak gas terus," kata Sumirat, di kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (22/1/2015).
Menurut Sumirat, pengguna LSD yang memakai saat berkendara, bisa menyebabkan kecelakaan. Efek halusinasi LSD, kata dia, sama pada kasus pengungkapan pilot pesawat pengguna sabu yang pernah ditemukan oleh BNN. Pilot pesawat itu jadi tidak dapat membedakan jarak.
"Si pilot bilang sendiri, tidak dapat melihat ini masih jauh apa sudah dekat. Akhirnya dia serahkan ke co-pilotnya. Kan bahaya sekali kalau pilot begitu," ujar Sumirat.
Selain itu, efek lain halusinasi yang diakibatkan LSD yakni tidak bisa membedakan waktu, apakah masih pagi, siang, sore atau malam. Sementara untuk efek LSD yang mengakibatkan salah persepsi indera, misalnya gangguan pada pengelihatan.
"Misalnya kalau pengelihatan orang normal kucing, dia (pengguna LSD) bisa misalnya melihat itu harimau. Atau hal yang tidak sesuai dengan orang normal melihat," ujar Sumirat.
Kata Sumirat, LSD juga bisa menyebabkan orang menjadi paranoid, dan bisa mempercepat proses denyut jantung dan tekanan darah.
"Kalau denyut jantung kecang, pasti bisa keram jantung dan pecahnya pembuluh darah, dan sebagainya, sampai pada kematian dan juga bisa paranoid," ujar Sumirat.
Pengguna pada umumnya akan mengalami gejala halusinasi pada 30 menit sampai 60 menit pemakaian pertama. Gejala tersebut, lanjutnya, akan berlangsung sekitar enam sampai delapan jam.
Disalahgunakan
Sumirat mengatakan, awalnya LSD dipakai untuk kepentingan pengobatan. Kemunculannya disebut pada tahun 1947. Saat itu, kata dia, LSD dipakai oleh para psikiater untuk pengobatan.