Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Harus Modifikasi Cuaca Sebelum Banjir Membawa Korban

Tri Handoko Seto menegaskan bahwa modifikasi cuaca untuk melakukan redistribusi curah hujan di DKI Jakarta

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Adiatmaputra Fajar Pratama
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Harus Modifikasi Cuaca Sebelum Banjir Membawa Korban
TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Tim dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), dan TNI AU menyiapkan kontainer berbentuk corong berisi garam untuk disemai ke dalam awan hujan di pesawat Hercules, di Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta Timur, Selasa (14/1/2014). Pemprov DKI Jakarta bekerjasama dengan BPNB, BPPT, dan TNI AU melakukan rekayasa cuaca atau teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk mengurangi dampak banjir yang terjadi di Jakarta akibat curah hujan yang tinggi. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hingga kini, awan gelap masih menyelimuti wilayah DKI Jakarta. Hal ini tidak menutup kemungkinan datangnya hujan lebat dengan intensitas dan durasi yang tinggi. Beberapa wilayah di DKI Jakarta pun hingga kini masih digenangi air atau lazim disebut banjir.

Pakar Meteorologi Tropis BPPT, Tri Handoko Seto menegaskan bahwa modifikasi cuaca untuk melakukan redistribusi curah hujan di DKI Jakarta perlu dilaksanakan sesegera mungkin.

Berdasarkan pemodelan cuaca yang dilakukan oleh tim BPPT, tambahnya, diprediksi hujan masih akan terjadi beberapa hari kedepan di wilayah DKI Jakarta. Ia juga mengungkapkan bahwa besok, 12 dan 13 Februari, hujan masih akan terjadi di sekitar wilayah DKI Jakarta.

"Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebaiknya menggunakan teknologi modifikasi cuaca untuk redistribusi curah hujan guna mengurangi debit air yang memasuki wilayah DKI Jakarta," ujar Seto, Kamis (12/2/2015).

Ditambahkannya bahwa dalam kondisi permukaan yang sudah jenuh seperti sekarang ini maka hujan yang tidak terlalu banyak juga berpotensi menimbulkan genangan.

"Lalu, mengingat bulan Februari masih termasuk puncak musim hujan maka siaga darurat masih diperlukan agar semua elemen kemampuan di kementerian dan lembaga lain bisa membantu mengurangi resiko bencana banjir," papar Seto.

Rekomendasi Untuk Anda
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas