Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Jakarta, Kota yang Tidak Ramah untuk Pejalan Kaki

Aksi dilakukan dengan mengheningkan cipta selama 22 detik untuk mendoakan para korban

Jakarta, Kota yang Tidak Ramah untuk Pejalan Kaki
Warta Kota/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Pekerja tengah memasan conblok trotoar di Kawasan Gunung Sahari, Jakarta Utara, Selasa (1/12/2015). Pemasangan conblok tersebut untuk mempermudah akses pejalan kaki dan mempercantik jalur pedestrian. Warta Kota/angga bhagya nugraha 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Puluhan orang yang tergabung dalam Koalisi Pejalan Kaki Indonesia menggelar aksi simpatik mengenang tragedi Tugu Tani, empat tahun silam.

Seperti diketahui, pada tragedi berdarah kecelakaan lalu lintas itu, beberapa orang pejalan kaki meninggal setelah sebuah mobil kehilangan kendali dan menabrak orang-orang di Halte Tugu Tani, Jalan Abdul Muis, Jakarta Pusat.

Aksi dilakukan dengan mengheningkan cipta selama 22 detik untuk mendoakan para korban.

Selebihnya, mereka membentangkan spanduk dan tulisan-tulisan yang menolak diskriminasi terhadap pejalan kaki.

"Selama ini nasib pejalan kaki masih kurang diperhatikan. Di Jakarta saja kita pejalan kaki setiap hari harus bertaruh nyawa akibat tingkat keamanan yang minim," kata Alfred Sitorus, Koordinator Koalisi Pejalan Kaki Indonesia saat menggelar aksi, Jumat (22/1/2016).

Belum lagi okupasi trotoar yang dilakukan oleh pedagang kaki lima maupun sebagai tempat parkir liar.

Hal tersebut menurut Albred menjadi fakta memprihatinkan yang sepatutnya segera diatasi.

"Jakarta sebagai ibukota belum menjadi kota yang ramah bagi pejalan kaki. Okupasi di hampir semua trotoar. Hak pejalan kaki dirampas. Di sisi lain, pejalan kaki semakin tidak dihargai dengan banyaknya pembangunan jembatan penyeberangan yang tentu mempersulit pejalan kaki. Buatlah pejalan kaki lebih dihargai dengan memperbanyak zebra cross," protesnya.

Dinda (26) seorang pejalan kaki masih belum bisa menemukan rasa nyaman ketika berjalan di trotoar di Jakarta.

"Bayangkan, kita jalan di trotoar saja kadang masih harus mengalah dengan pesepeda motor yang juga naik ka trotoar ketika macet. Di trotoar lain, banyak pedagang dengan bebas jualan," jelas Dinda, karyawati swasta.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas