15 ABG Jadi Korban Prostitusi di Warung Kopi
Lima belas Anak Baru Gede alias ABG terjaring Polsek Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (11/3/2016).
Editor:
Gusti Sawabi
"Tidak 24 jam. Kalau yang masih sekolah, sepulang sekolah dari pukul 15.00 sampai magrib. Kalau yang tidak sekolah, dari pagi sampai pukul 22.00," tambah Sri.
Thoriq mematok tarif Rp 300.000 sampai Rp 400.000 untuk sekali layanan. Ia juga menyediakan kondom untuk para pelanggan yang akan bermesum ria. Usai melayani tamu, ABG itu berbagi hasil dengan Thoriq. Biasanya, tarif dibagi dua, 50 persen untuk Thoriq, dan 50 persen untuk ABG. Namun terkadang, Thoriq mengambil hasil lebih dengan alasan biaya operasional lain.
Kanit Reskrim Polsek Jagakarsa, AKP Hari Subeno mengatakan belasan ABG yang menjadi korban Thoriq sudah diamankan ke Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Rumah Sakit Soekamto.
"Korbannya ya itu ada 15, sudah dibawa ke PPT untuk diberikan pemeriksaan psikologis," kata dia.
Ia menjelaskan, bisnis prostitusi ABG itu dilakukan Thoriq setelah bercerai dengan istri muda. Sebelumnya, Thoriq telah memiliki istri yang juga telah diceraikannya.
"Pelaku ini sudah berkeluarga, tapi sudah cerai sebanyak dua kali dan memiliki seorang anak," ungkapnya.
Seorang warga sekitar, Gianto (45) mengatakan pelaku mengontrak di wilayah tersebut sekitar lima tahun lalu. Saat itu pelaku tinggal bersama istri muda. Kondisi ekonomi yang loyo membuat istri muda Thoriq angkat kaki dari kontrakan. Padahal, saat itu istri muda Thoriq baru memiliki anak.
Kehidupan pelaku lalu berubah. Ia lalu meminta izin warga untuk memanfaatkan lahan kosong sebagai usaha mencari rezeki. Warga yang tak tega dengan kehidupan pelaku pun mengizinkan. Saat itulah pelaku mendirikan warung klongtong di wilayah tersebut.
"Pada saat itu jual-jual aqua. Kami juga sering beli waktu itu. Jadi dia (pelaku) tinggal di warung itu. Rumah aslinya ada di Jalan Meninjo, Jagakarsa itu istri tuanya. Tapi enggak lama warung itu tutup," tuturnya.
Setelah warung tutup, warga justru dikagetkan dengan kehadiran pelajar SMP yang kerap berkumpul di lokasi. Awalnya hanya ada satu hingga dua orang. Seiring berjalan waktu pelajar tersebut kian bertambah menjadi belasan.
"Kita di situ mulai curiga. Tapi enggak mau grebek karena belum ada bukti dan bukan wewenang kita. Akhirnya kita lapor ke polsek dan ke kelurahan," ungkapnya. (tribunnews/warta kota/kompas.com)
Baca tanpa iklan