Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Balada 'Manusia-manusia Perahu' Pasar Ikan

SUDAH sekitar tiga hari Siska bersama keluarganya hidup di dalam perahu.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Yurike Budiman
Editor: Gusti Sawabi
zoom-in Balada  'Manusia-manusia Perahu' Pasar Ikan
Youtube
Tinggal di Perahu 

Untuk sementara Sri menggunakan perahu untuk tempat tinggal meski sudah diberikan tempat tinggal berupa rumah susun. Biaya ojek yang harus dikeluarkan sebanyak Rp 25 ribu sekali pergi dari Cakung hingga ke Luar Batang untuk mengurus sekolah anak-anaknya membuat ia kebingungan.

"Uang habis di ongkos," ujarnya.

Soal rusun yang didapat, ia juga mengatakan dapur yang didapat memang cukup bagus. "Kalau dapur sama kamar ya dicukupi lah, kayak pepes enggak apa-apa biar muat, tapi jemuran itu, harus rebutan. Enggak ada jemuran," katanya.

Rista, warga RT 01 RW 04 Pasar Ikan juga sama, ia tidak mau tinggal di rusun yang sudah disediakan pemerintah. "Rumah saya besar, mbak, ada lima kamar, rumah permanen dan itu dari orang tua saya sudah tinggal di sini, masih kena gusur juga. Saya enggak mau pindah ke rusun lah, kamarnya kecil begitu," kata Rista saat ditemui di lokasi penggusuran.

Ia kini harus menetap sementara di rumah mertuanya di bilangan Condet, Jakarta Timur. Lain hal dengan Ari, warga yang sudah sejak 1981 menempati rumahnya yang ada di kawasan Pasar Ikan tersebut, harus menumpang di rumah kerabatnya di Luar Batang.

"Saya sekarang di Luar Batang, numpang dulu. Nah, ini juga hati-hati, Luar Batang sebentar lagi juga kena gusur nanti. Mana nggak dapat ganti rugi," ujar Ari.

Barang-barang yang tertinggal seperti perabot rumah tangga, sebagian baju bahkan pintu rumah, dibiarkan saja bersatu dengan puing rumahnya. "Paling baju sama perabot yang sudah gak keburu diambil. Kalau pintu rumah, ya ikhlasin aja, walau mahal," ujarnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Ahok Minta Manusia Perahu Pindah

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) imbau warga Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara, yang bertahan untuk mau direlokasi ke rumah susun (Rusun). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan hunian sebagai kompensasi penertiban kawasan Pasar Ikan. Rusun itu di Marunda, Rawa Bebek, Kapuk Muara, Cakung Barat, dan Tipar Cakung.

Namun penolakan dilakukan warga karena enggan direlokasi. Beberapa warga Pasar Ikan yang huniannya ditertibkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih bertahan di atas perahu, sehingga dijuluki 'Manusia Perahu'.

Mereka menolak untuk direlokasi dengan berbagai alasan. Satu diantaranya, jarak Rusun ke lautan yang cukup jauh.

Ahok mengimbau agar para nelayan mau untuk direlokasi.Dia mengatakan jarak dari Rusun Marunda tidak begitu jauh ke tempat mereka mencari ikan.

"Manusia perahu (bertahan) karena urusan kerja di sana. Saya mau tanya, di Rusun Marunda, ada kanal banjir timur, segala macam. Ada nelayan enggak di Cilincing dan Cakung? Ada," ujar Ahok.

Ahok berpandangan tidak ada alasan para nelayan bertahan di atas perahu mereka.Menurutnya, Pemprov DKI telah menyiapkan fasilitas penunjang, sehingga kehidupan nelayan akan lebih baik.

Semisal bus gratis dan Kartu Jakarta Pintar (KJP) untuk anak-anak."Nelayan kenapa sih tidak mau pindah ke Rusun Marunda? Anak Anda dijemput bus sekolah. Buat apa sengsarakan keluarga. Jadi kan ini politik namanya, sengaja tinggal di perahu, ya tinggal saja," kata dia.

Pemprov DKI terus melakukan penertiban di Pasar Ikan demi melangsungkan proyek penataan kawasan Wisata Bahari Sunda Kelapa. Setelah bangunan liar ditertibkan, Pemprov DKI akan melakukan pemasangan sheet pile atau dinding turap mulai dari Pasar Ikan hingga menuju ke laut.

Diharapkan dengan dipasangnya dinding turap tidak ada lagi rembesan air yang masuk ke kawasan tersebut.(Yurike Budiman)

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas