Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pelecehan Guru Agama Terungkap Karena Korban Bertingkah Laku Aneh

Mereka heran karena anaknya pernah memperagakan adegan pelecehan seksual itu yang dilakukan pelaku.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Pelecehan Guru Agama Terungkap Karena Korban Bertingkah Laku Aneh
Warta Kota/Fitriandi Al Fajri
Seorang Guru Agama di SMA Nnegeri Jakarta Timur berinisial JS (40) tega mencabuli 10 bocah laki-laki sejak tahun 2014 lalu. Aksi bejat itu dilakukan pelaku di rumahnya, Perumahan Mutiara Gading Timur, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Terungkapnya kasus pelecehan oleh seorang guru agama, JS (40) terhadap 10 anak-anak di daerah Perum Mutiara Gading Timur, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi akibat kecurigaan orang tua korban yang bersikap aneh.

Kepala Sub Bagian Humas Polresta Bekasi Kota, Inspektur Satu Evi Fatna menjelaskan kasus ini terungkap berdasarkan informasi warga setempat.

Menurut dia, sejumlah ibu rumah tangga terkejut dengan tingkah laku anak-anaknya yang aneh.

Mereka heran karena anaknya pernah memperagakan adegan pelecehan seksual itu yang dilakukan pelaku.

Hanya saja anak-anak itu masih mengenakan celana dan pakaiannya.

Dari perilaku yang menyimpang itu, kemudian orangtua mendesak anaknya untuk memberitahu dari mana mereka bisa memperagakkan adegan tersebut.

Bak disambar petir di siang bolong, para bocah kompak menunjuk bahwa mereka tahu dari JS.

Rekomendasi Untuk Anda

Warga sempat tak percaya, karena JS dikenal sebagai sosok yang baik dan berstatus sebagai guru agama di sekolahnya.

“Dari situ warga kemudian melaporkan ke ketua RT. Dan kami yang memperoleh kabar itu, langsung mengamankan tersangka ke Mapolresta Bekasi Kota,” ujar Evi.

Evi memastikan, seluruh korban tidak pernah disodomi pelaku, karena birahi JS sudah terpuaskan ketika alat kelaminnya digesekkan ke pangkal paha korban.

Akibat perbuatan tersangka, kata Evi, sejumlah korban mengalami trauma sehingga perlu pengawasan khusus dari orangtuanya.

Oleh karena itu, Evi berencana akan menggandeng Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAID) Kota Bekasi bersama Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Kota Bekasi untuk memulihkan kondisi psikologi korban. (Fitriyandi Al Fajri) 

Sumber: Warta Kota
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas