Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Warga Perlakukan Keluarga Guru Cabul Seperti Biasa

Sebab di mata tetangga, JS orang yang ramah sehingga tak mencerminkan ada perilaku aneh terhadapnya.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Warga Perlakukan Keluarga Guru Cabul Seperti Biasa
Warta Kota/Fitriandi Al Fajri
Seorang Guru Agama di SMA Nnegeri Jakarta Timur berinisial JS (40) tega mencabuli 10 bocah laki-laki sejak tahun 2014 lalu. Aksi bejat itu dilakukan pelaku di rumahnya, Perumahan Mutiara Gading Timur, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi. 

Menurutnya, tak ada perubahan sikap keluarga pelaku setelah JS ditangkap polisi pada Jumat (20/5) lalu.

Keluarga pelaku, kata Mulyati, tetap bersosialisasi dengan para tetangga seperti biasanya.

"Istrinya suka ada di teras rumah kalau sore, tapi kalau siang seperti ini kayaknya nggak ada. Rumahnya sepi," kata Mulyati.

"Tapi kalau didatangi wartawan, dia nggak akan mau bicara karena masih syok," tambahnya.

Kepala Bidang pada Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Kota Bekasi,

Mini Aminah menyatakan, pihaknya sedang berkoordinasi dengan aparatur kelurahan dan kecamatan setempat untuk meninjau ke lokasi.

Menurut dia, seluruh korban pelecehan seksual yang dilakukan tersangka perlu diberi bimbingan konseling untuk meringankan beban psikologi.

Rekomendasi Untuk Anda

"Kita ada dua tenaga ahli di bidang psikologi. Nanti mereka akan kami kerahkan ke lokasi," kata Mini.

Mini mengungkapkan, dua tenaga ahli itu hanya bisa menangani korban yang mengalami trauma ringan.

Bila ada korban dengan keluhan trauma berat, maka akan dibawa ke ahli psikologi di Universitas Islam'45 (Unisma) Bekasi.

"Kita sudah menjalin kerjasama dengan Unisma, sehingga bila ada kasus yang mengguncang psikologi anak bisa langsung ditangani," ujar Mini.

Pasca insiden memalukan ini, Mini berjanji akan memperkuat peran satuan tugas (satgas) perlindungan anak di tiap RT di Kota Bekasi.

Sebab dia menilai dari total 7.200 satgas perlindungan anak, yang berperan aktif hanya setengahnya atau sekitar 3.500 satgas.

Mereka yang tidak aktif karena statusnya sebagai karyawan perusahaan, jadi mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat kerja.

"Ke depan akan kita evaluasi anggota satgas dan pertajam tugasnya di lapangan," tambah Mini.

Mini berdalih, sejauh ini satgas itu sudah berjalan dengan baik. Sebagai tenaga yang diberdayakan oleh kelurahan setempat, mereka sudah terbiasa memberikan sosialisasi terhadap perlindungan anak dan segala macam bahaya yang bisa merenggut masa depan anak. (Fitriyandi Al Fajri)

Sumber: Warta Kota
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas