Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Polisi Geledah Apartemen di Bekasi, Temukan 8 Perempuan yang Hendak ''Diperdagangkan'' ke China

Saat dilakukan penggeledahan, polisi berhasil mengamankan delapan korban yang hendak dijual ke China.

Polisi Geledah Apartemen di Bekasi, Temukan 8 Perempuan yang Hendak ''Diperdagangkan'' ke China
internationalpoliticalforum.com
ILUSTRASI Human Trafiling 

TRIBUNNEWS.COM, BEKASI - Reskrim Polres Bekasi Kota mengungkap kasus perdagangan orang dan penempatan TKI tanpa izin secara perseorangan di Apartemen Tower A dan C, Kayuringin, Bekasi Selatan.

Saat dilakukan penggeledahan, polisi berhasil mengamankan delapan korban yang hendak dijual ke China.

Mereka seluruhnya perempuan, berasal dari Lombok, ‎Indramayu, Sukabumi dan Subang.

Kapolres Bekasi Kota, Kombes Umar Surya Fana mengatakan dari kasus ini pihaknya telah menetapkan tiga tersangka yakni YA alias Dewi, N alias Fathiyah, dan Nanda alias Anisa.

"Untuk barang bukti kami sita paspor sebanyak 20 buku, Kartu Keluarga empat lembar, dua buah buku tabungan Bank Mandiri Syariah dan BNI berikut ATM, tuga buah HP‎ milik tersangka dan tiga KTP korban," ujar Umar, Kamis (18/8/2016).

Diutarakan Umar, kejadian bermula saat 16 agustus 2016 pihaknya ‎mendapatkan laporan bahwa di lokasi ada kamar yang dihuni oleh para perempuan yang diduga calon TKI.

Lalu dilakukan penyelidikan dan diketahui benar di lokasi tersebut dijadikan penampungan calon TKI yang akan dikirim ke China.

Setelah diamankan para korban lalu didata dan diperiksa.

"Korban mengakui akan diberangkatkan ke China untuk bekerja.‎ Lalu tiga tersangka kami tangkap di lokasi terpisah," tegas Umar.

Berdasarkan pemeriksaan pada ketiga tersangka, Umar menjelaskan ketiganya sudah melakukan perbuatan sejak Mei 2016 dan menampung para korban di lokasi.

Mereka menerima para korban dari penyalur atau sponsor inisial RK yang kini masih DPO. Selain itu ada juga beberapa korban yang datang ‎sendiri dan langsung membawa paspor.

"Bagi yang belum punya pasport, tersangka meminta bantuan tersangka lain yang masih DPO inisial SR.‎ Pada para korbannya, tersangka memotong gaji para korban yang sudah bekerja di Shina selama enam bulan," tambahnya.

Ikuti kami di
Penulis: Theresia Felisiani
Editor: Hasanudin Aco
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas