Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Selama Lima Abad Salah Urus Jakarta

Sungai secara alami berkelok-kelok berfungsi menahan air selama mungkin di daratan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Selama Lima Abad Salah Urus Jakarta
Tribunnews/JEPRIMA
Proyek normalisasi dengan pelebaran tiga kali di Jakarta yaitu Kali Pesanggrahan, Kali Angke, dan Kali Sunter terlihat terhenti tidak ada pekerja yang sedang melakukan penggalian di Kali Pesanggrahan, Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Kamis (23/1/2014). Pemprov DKI Jakarta bekerjasama dengan Dinas Pekerjaan Umum menormalisasi sungai-sungai yang membelah Jakarta untuk mengurangi dampak banjir saat musim penghujan. (Tribunnews/Jeprima) 

”Pemerintah kolonial jugalah yang mengubah lahan di Puncak, Bogor, dari hutan jadi kebun teh pemicu erosi serta sedimentasi besar-besaran di sungai-sungai di hilir,” kata Restu.

Restu juga mempertanyakan apakah pola kanalisasi yang diterapkan di era kolonial itu tetap relevan diterapkan sekarang.

”Tahun 1923, dengan penduduk Jakarta 30.000 jiwa saja, Belanda sudah berencana membangun kanal barat, kanal timur, dan sodetan-sodetan. Sodetan-sodetan itu yang kini mau dilanjutkan lagi pembangunannya,” katanya.

Baik Prof Hadi maupun Restu menyiratkan, Jakarta saat ini perlu terobosan baru dalam menata kota.

Terobosan atas dasar studi riil kondisi serta kebutuhan sekarang demi kelangsungan kota ini.

Jangan lagi terulang berkubang kebobrokan dalam lima abad ke depan.(Neli Triana/ Ratih P Sudarsono)

 Artikel ini sebelumnya dimuat dalam Harian Kompas edisi Kamis,1 September 2015, dengan judul "Lima Abad Salah Urus Jakarta".

Rekomendasi Untuk Anda
Sumber: Kompas.com
Halaman 3/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas