Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

'Saya Kecewa Datang Dua Kali, Tapi Tidak Ketemu Ahok-Djarot'

Selain mengungkapkan kekecewaannya, Chandra pun menuturkan bahwa dirinya ingin menjadi bagian dari tim relawan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Sanusi
zoom-in 'Saya Kecewa Datang Dua Kali, Tapi Tidak Ketemu Ahok-Djarot'
Fitri Wulandari
Diskusi Publik bertajuk 'Kriminalisasi SARA dalam Pilkada Sebagai Penistaan Demokrasi' yang digelar di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (4/1/2017). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Meskipun penerimaan aspirasi warga ibukota oleh petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat dimulai kembali esok hari, namun saat ini banyak warga tetap mendatangi posko Rumah Lembang, Jakarta Pusat.

Pasalnya, ada diskusi publik yang diadakan di balai rakyat yang terletak di kawasan Menteng tersebut.

Diskusi tersebut bertajuk 'Kriminalisasi SARA dalam Pilkada Sebagai Penistaan Demokrasi'.

Chandra, seorang guru bahasa Inggris sebuah sekolah di Serpong, Tangerang, turut menghadiri diskusi tersebut

Ia mengaku kecewa lantaran tiap kali menyambangi Rumah Lembang, pasangan petahana itu selalu tidak ada di lokasi.

"Saya kecewa datang ke sini dua kali, tapi tidak ketemu favorit saya, Ahok-Djarot," ujar Chandra, di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (4/1/2017).

Selain mengungkapkan kekecewaannya tersebut di depan tim pemenangan Ahok-Djarot, Ace Hasan syadzily, Chandra pun menuturkan bahwa dirinya ingin menjadi bagian dari tim relawan.

Rekomendasi Untuk Anda

Namun, kekecewaan kembali ia dapatkan lantaran tidak mengetahui cara bergabung dalam tim relawan Ahok-Djarot.

"Saya beberapa kali ingin jadi relawan Ahok, tapi saya tanya di sini nggak ada yang tahu caranya jadi relawan," katanya.

Diskusi tersebut dipimpin oleh Ace Hasan Syadzily yang bertindak sebagai moderator dan dihadiri oleh sejumlah narasumber yakni penasihat Hukum Ahok Humphrey Djemat dan Josefina Syukur, pengamat politik LIPI Syamsuddin Haris, serta guru besar Antropologi Hukum FHUI Sulistyowati Irianto.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas