Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Pangeran Siahaan: Negara Lain Harusnya Takut Kepada Kita Mengapa Kita Takut Pada Diri Sendiri

Bonus demografi yang akan dihadapi Indonesia pada kurun 2020-2030 seharusnya bukan dijadikan momok.

Pangeran Siahaan: Negara Lain Harusnya Takut Kepada Kita Mengapa Kita Takut Pada Diri Sendiri
ist
Pangeran Siahaan 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bonus demografi yang akan dihadapi Indonesia pada kurun 2020-2030 seharusnya bukan dijadikan momok.

Justru menjadi potensi bagi Indonesia untuk melesat lebih jauh. Sebab, inilah momen Indonesia untuk menjadi salah satu negara dengan volume ekonomi terbesar.

“Apa yang kita takutkan? Negara-negara lain yang harusnya takut sama kita. Kok jadi kita yang takut sama diri kita sendiri,” ungkap Co-Founder Asumsi, Pangeran Siahaan dalam acara Rebut 2024 di The Ice Palace, Lotte Shopping Avenue, Kuningan, Jakarta Selatan.

Rebut 2024 adalah aksi yang diinisiasi Asumsi.co untuk mengajak anak muda Indonesia melihat ke masa depan dan mempersiapkan diri dalam menghadapi era disrupsi.

Tepatnya ke tahun 2024 di mana Indonesia telah dipimpin oleh generasi baru politisi dan diperkirakan telah naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah ke atas (upper-middle income).

Para pembicara yang hadir antara lain Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Sekretaris Jenderal Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI Anwar Sanusi yang mewakili Eko Sandjoyo, CPO Kitabisa Vikra Ijas, Gustika Jusuf Hatta (anggota Supervisory Board Youth of Indonesia), dan Co-Founder Getcraft Anthony Reza Prasetya.

Pange, panggilan akrab Pangeran Siahaan mengatakan, kita tidak perlu takut pada bonus demografi hanya karena merasa tidak siap. Padahal, bonus demografi harus dilihat sebagai tantangan. Bukan musibah.

“Saat bonus demografi terjadi, akan ada tambahan 11 juta tenaga baru. Jutaan tenaga produktif yang melimpah ini bakal mengerek pendapatan negara hingga dua kali lipat. Nggak bisa dibayangin bagaimana besarnya Indonesia nanti,” kata Pange.

Hal senada diungkapkan Co-Founder Asumsi.co Iman Sjafei. Menurut dia, negara memang punya peran dalam menghadapi bonus demografi. Tapi, pemerintah tak bisa menjadi satu-satunya tumpuan.

“Pemerintah berperan dalam menyiapkan pondasi. Seperti konektivitas, baik melalui infrastruktur maupun digital, dan prioritas dalam politik anggaran. Kita sebagai anak muda yang pada 2020-2030 nanti menjadi pemegang kendali harus menyiapkan diri dengan kompetensi dan profesionalisme,” jelasnya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto yang menjadi salah satu pembicara mengatakan, situasi Indonesia saat ini sudah berada di jalur yang tepat untuk menghadapi bonus demografi.

“Kita berada di peringkat 16 besar ekonomi dunia,” tuturnya.

Airlangga menambahkan, negara yang memiliki bonus demografi memiliki pertumbuhan ekonomi 5,5-9 persen. Indonesia saat ini sudah 5,4 persen.

“Salah satu kuncinya adalah fokus pada lima sektor. Yakni, makanan dan minuman, tekstil dan busana, otomotif, elektronik, dan kimia. Ini sektor-sektor yang cost-nya tidak terlalu besar tapi impact-nya luar biasa,” ujarnya.

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Toni Bramantoro
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas