Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Bakar Seorang Waria Hingga Tewas, Pelaku Disebut Sering Bikin Onar di Kalibaru

Para pelaku itu disebut-sebut bukan hanya pemuda warga setempat, tapi juga warga dari luar Kelurahan Kalibaru.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Bakar Seorang Waria Hingga Tewas, Pelaku Disebut Sering Bikin Onar di Kalibaru
AFP/Getty Images
Ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA --- Sekelompok pemuda yang diduga membakar seorang transgender atau waria bernama Mira disebut-sebut sering membuat onar di wilayah Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara.

Para pelaku itu disebut-sebut bukan hanya pemuda warga setempat, tapi juga warga dari luar Kelurahan Kalibaru.

ereka disebut Lurah Kalibaru sering menggelar tawuran di kawasan itu.

Lurah Kalibaru Suyono mengatakan, para pengeroyok Mira umumnya remaja-remaja di bawah 20 tahun.

Mereka bukan hanya warga Kalibaru, melainkan banyak juga warga dari luar Kalibaru.

"Tidak bisa digeneralisirkan karena kejadiannya di Kalibaru maka itu warga kami."

"Karena faktanya banyak juga itu ternyata warga luar wilayah kami seperti dari Semper Barat, Koja, Cilincing, bahkan Bekasi," kata Suyono saat dihubungi, Selasa (7/4/2020).

Baca: Ketua Fraksi PKS Beberkan Hal Tak Biasa Dalam Rapat Paripurna Pemilihan Wagub DKI Jakarta

Baca: Layangkan Bogem Mentah karena Cemburu, Shinta Sari Diadili di PN Denpasar

Baca: Pesan Menpora ke Saddil Ramdani: Jangan Terulang! Jaga Nama Baik Keluarga, Klub, dan Timnas

Baca: Kasus Corona di China Mulai Reda, Pertama Kalinya Tidak Ada Korban Jiwa Sejak Januari

Rekomendasi Untuk Anda

Suyono tidak menampik satu titik wilayahnya, tepatnya di kolong jembatan layang tol, kerap dijadikan tempat kumpul-kumpul remaja nakal.

Kolong tol yang beralih fungsi menjadi garasi kontainer itu kerap dijadikan sebagai tempat berbuat keonaran.

"Terkadang kami patroli bersama tiga pilar pergoki anak-anak itu tengah mabok dengan lem aibon," ujar Suyono.

Namun, mereka mengaku kerap kesulitan memproses hukum anak-anak itu.

Sebab, perbuatan itu tidak termasuk pelanggaran hukum.

"Apalagi, banyak yang di bawah umur."

"Akibatnya kami hanya dapat kembalikan ke orang tua untuk dibina," ungkapnya.

Bukan hanya ngelem dan mabuk-mabukan, anak-anak itu juga disebut kerap membuat keributan di wilayah sekitar.

Sumber: Warta Kota
Halaman 1/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas