Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Kerumunan Massa di Acara Rizieq Shihab

Ahli Sosiologi Umum Bilang Keliru Menghukum Orang yang Gelar Kegiatan Keagamaan

 Pengadilan Negeri Jakarta Timur kembali menggelar sidang lanjutan kasus dugaan kebohongan swab test RS Ummi Bogor dan perkara pelanggaran protokol ke

Ahli Sosiologi Umum Bilang Keliru Menghukum Orang yang Gelar Kegiatan Keagamaan
Tribunnews.com/ Rizki Sandi Saputra
Habib Ali dan Haris Ubaidillah mengipasi Rizieq Shihab dengan map saat terjadi adu mulut antara Rizieq Shihab dengan jaksa di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (22/4/2021). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengadilan Negeri Jakarta Timur kembali menggelar sidang lanjutan kasus dugaan kebohongan swab test RS Ummi Bogor dan perkara pelanggaran protokol kesehatan, dengan terdakwa Habib Rizieq Shihab, Selasa (11/5/2021).

Kubu Rizieq menghadirkan saksi a de charge atau saksi meringankan, yakni ahli Sosiologi Umum dari Rektor Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta, Musni Umar.

Dalam kesaksiannya, Musni tidak sependapat dan menilai salah jika seseorang dihukum atas dasar menggelar acara pengajian, maulid atau acara keagamaan lainnya. Sebab katanya, acara keagamaan tak pernah berujung rusuh atau huru - hara.

"Saya ini pernah belajar di perguruan tinggi ilmu Al-Qur'an, setiap kesempatan ada maulid, acara kebesaran islam, hadir ramai dan itu tidak ada kerusuhan apa - apa," katanya di persidangan.

"Jadi saya berpendapat, kalau ada siapapun yang dihukum karena kegiatan keagamaan, itu salah. Kenapa? karena tidak ada kerusuhan di situ, tidak ada huru - hara," sambung dia.

Baca juga: Jaksa Sesalkan Rizieq Shihab Tidak Tunda Acara Maulid Nabi di Petamburan

Ia menilai wajar bila timbul persepsi publik soal kerusuhan. Hal itu kata dia, tak terlepas dari peran media yang membantu membuat persepsi tersebut.

"Memang persepsi publik bisa seperti itu, kenapa? Karena media kita itu membantu membuat persepsi seperti itu. Karena ada berita yang tidak benar itu, kalau diberitakan menjadi bad news, jadi berita yang buruk," ungkapnya.

Ikuti kami di
Penulis: Danang Triatmojo
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas