Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pengakuan Pelajar Jadi Korban Pemukulan Polisi saat Demo Bubarkan DPR: Kami Jalan-Jalan

Pelajar jadi korban pemukulan polisi saat demo Bubarkan DPR. Ikut karena viral, pulang dengan luka dan trauma di Senayan.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Pengakuan Pelajar Jadi Korban Pemukulan Polisi saat Demo Bubarkan DPR: Kami Jalan-Jalan
istimewa
AKSI DI DPR RI - Pelajar menunjukkan luka memar di tangan usai diamankan polisi saat demo “Bubarkan DPR” di Senayan, Jakarta, Senin (25/8/2025). Mereka mengaku hanya ikut karena ajakan viral di media sosial, bukan untuk berdemo. 

TRIBUNNEWS.COM - Datang karena poster viral, pulang dengan luka. Sejumlah pelajar mengaku menjadi korban pemukulan aparat kepolisian saat mengikuti aksi demonstrasi bertajuk “Bubarkan DPR” di kawasan Senayan, Jakarta, Senin (25/8/2025). 

Demo “Bubarkan DPR” adalah aksi unjuk rasa besar-besaran yang berlangsung pada Senin, 25 Agustus 2025 di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta. 

Aksi ini dipicu oleh kemarahan publik terhadap kenaikan tunjangan perumahan anggota DPR sebesar Rp50 juta per bulan, serta berbagai isu lain yang dianggap mencerminkan ketimpangan dan ketidakpedulian wakil rakyat terhadap kondisi masyarakat.

Aksi ini membawa sejumlah tuntutan, di antaranya:

Pembubaran DPR RI karena dianggap tidak lagi mewakili kepentingan rakyat

Penolakan kenaikan gaji dan tunjangan DPR

Transparansi penghasilan anggota DPR

Rekomendasi Untuk Anda

Penolakan terhadap RKUHAP dan proyek penulisan sejarah Indonesia

Desakan agar Presiden Prabowo mengeluarkan dekret pembubaran DPR

Tuntutan hukum terhadap tokoh politik tertentu, seperti Fadli Zon, terkait isu 1998. 

Demo ini menjadi simbol kekecewaan publik terhadap elite politik, dan meski tuntutan “Bubarkan DPR” secara hukum sulit diwujudkan, aksi ini menunjukkan eskalasi ketidakpercayaan terhadap lembaga legislatif. 

Banyak peserta aksi adalah pelajar SMA yang mengaku ikut karena ajakan viral di media sosial, bukan karena motif politik.

Ajakan menyebar luas di X (Twitter), Instagram, dan WhatsApp.

Seruan seperti “Bubarkan DPR!”, “Dewan Pengkhianat Rakyat”, dan “Turun ke jalan!” digunakan untuk memancing respons publik.

Beberapa akun bahkan menyarankan peserta membawa polybag atau plastik sebagai pelindung dari gas air mata.

Sumber: Tribun depok
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas