Pembangunan PSEL Jadi Salah Satu Solusi Krisis Sampah di Tangerang Selatan
Wali Kota Benyamin Davnie menyampaikan permohonan maaf yang tulus terkait penanganan penumpukan sampah di sejumlah titik di Tangerang Selatan.
Penulis:
Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor:
Wahyu Aji
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penanganan penumpukan sampah di sejumlah titik di Tangerang Selatan (Tangsel), termasuk area flyover Ciputat yang sempat viral terus dilakukan.
Upaya pengangkutan dilakukan secara bertahap dengan pengerahan armada tambahan dan satuan tugas khusus.
Wali Kota Benyamin Davnie menyampaikan permohonan maaf yang tulus dan mendalam kepada seluruh warga atas ketidaknyamanan yang terjadi.
"Tumpukan sampah yang tinggi, bau menyengat, hingga ancaman kesehatan dari air lindi adalah masalah serius. Kenyamanan dan kesehatan lingkungan warga adalah prioritas utama," ujar Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Tangsel, Tb. Asep Nurdin, Rabu (17/12/2025).
Asep memaparkan data faktual bahwa produksi sampah harian saat ini mencapai 1.200 hingga 1.300 ton, sementara kapasitas penanganan eksisting berada di angka 1.050 ton.
Defisit harian yang terakumulasi inilah yang menyebabkan terjadinya penumpukan di fasilitas publik.
Sebagai langkah aksi, pihaknya telah mengambil tindakan. Yakni mulai dari pengerahan Satuan Tugas Khusus dan 15 armada truk tambahan untuk memastikan penumpukan sampah bisa berkurang di sejumlah titik,sepeti di area flyover Ciputat.
"Kemudian sterilisasi lingkungan yaitu area yang telah dibersihkan langsung disemprot dengan Bio-Desinfektan untuk menetralkan air lindi yang berbahaya dan menghilangkan bau. Kemudian penempatan personel gabungan di lokasi rawan untuk mencegah pembuangan liar.”
"Tidak ada lagi toleransi untuk pembuangan sampah sembarangan di fasilitas publik," tegas Asep.
Pihaknya juga menekankan bahwa penanganan ini tidak berhenti pada pengangkutan saja, melainkan berlanjut pada reformasi tata kelola jangka panjang.
Saat ini Pemkot Tangsel tengah memfokuskan investasi pada pembangunan Fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).
"Ini adalah solusi permanen untuk mengubah limbah menjadi energi bersih. Kami menargetkan groundbreaking pada Kuartal III tahun depan agar ketergantungan pada TPA konvensional berkurang," jelas Asep.
Selain itu, momen ini digunakan pula untuk evaluasi menyeluruh baik internal maupun eksternal termasuk pola komunikasi pemerintah kota dengan warga Cipeucang.
Program Gerakan 1.000 Bank Sampah Sekolah/RT diluncurkan untuk menargetkan reduksi sampah sebesar 25 persen dalam dua tahun.
Masyarakat pun diajak mengubah perilaku dengan memilah sampah dari sumbernya sebagai sumber daya ekonomi.
Baca tanpa iklan