Krisis Sampah di Tangsel, Benyamin Davnie Bicara Transisi Teknologi PSEL
Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, meminta masyarakat agar bersabar menghadapi kendala pengangkutan sampah yang terjadi di sejumlah wilayah
Penulis:
Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor:
Erik S
Ringkasan Berita:
- Krisis sampah di Tangerang Selatan, Banten menyebabkan tumpukan sampah di sejumlah jalan dan menimbulkan ketidaknyamanan warga.
- Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan hal ini diakibatkan transisi menuju sistem pengolahan sampah modern, termasuk proyek PSEL yang akan mengolah seluruh sampah kota menjadi energi.
- Sembari menunggu PSEL beroperasi, Pemkot Tangssel menjalankan langkah darurat, kerja sama regional, dan mengajak warga memilah sampah dari sumbernya.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Krisis masalah sampah yang terjadi di Tangerang Selatan, Banten tengah menjadi sorotan.
Pasalnya, tumpukan sampah terlihat di sejumlah titik jalanan yang menyebabkan masyarakat merasa tidak nyaman.
Menanggapi itu, Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, meminta masyarakat agar bersabar menghadapi kendala pengangkutan sampah yang terjadi di sejumlah wilayah belakangan ini.
Dia menegaskan situasi ini merupakan dampak dari langkah korektif pemerintah yang tengah melakukan transisi besar-besaran, dari pola pembuangan konvensional menuju sistem pengolahan sampah modern berbasis teknologi.
Baca juga: Pembangunan PSEL Jadi Salah Satu Solusi Krisis Sampah di Tangerang Selatan
Benyamin menyadari sepenuhnya ketidaknyamanan yang dialami warga akibat tumpukan sampah di beberapa titik.
Menurutnya, Pemkot Tangsel saat ini tidak lagi sekadar ingin memindahkan masalah ke tempat lain, melainkan sedang memutus rantai persoalan sampah dari akarnya.
"Saya merasakan betul kegelisahan warga. Bau yang tidak sedap dan pemandangan tumpukan sampah itu adalah beban moral bagi saya. Namun, kita harus berani mengambil langkah jujur bahwa TPA Cipeucang sudah tidak mampu lagi menampung beban dengan cara lama,” kata Benyamin, Sabtu (27/12/2025).
“Memaksakan pembuangan di sana justru akan menciptakan bencana lingkungan yang lebih besar bagi anak cucu kita," sambungnya.
Terkait solusi permanen, Benyamin memaparkan secara rinci mengenai proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Dia menjelaskan bahwa proyek ini telah melewati tahapan lelang yang ketat dan kini berada pada fase krusial sebelum konstruksi dimulai. Dimana, proyek ini merupakan bagian dari program strategis nasional untuk mengatasi darurat sampah perkotaan.
"Mengenai rincian teknisnya, PSEL ini nantinya akan memiliki kapasitas olah yang sangat masif, mencapai 1.000 hingga 1.100 ton sampah per hari. Angka ini setara dengan seluruh timbulan sampah yang dihasilkan warga Tangsel setiap harinya," tuturnya.
Baca juga: Akademisi UI: PSEL Solusi Strategis Penanganan Sampah Perkotaan
Dia menambahkan bahwa teknologi thermal yang digunakan memiliki standar emisi yang sangat ketat.
"Sampah akan habis dibakar dan dikonversi menjadi energi listrik, bukan lagi ditumpuk hingga menggunung. Sistem ini mampu mereduksi volume sampah hingga 90 persen, sehingga residu yang dihasilkan sangat minimal. Ini adalah jawaban atas keterbatasan lahan kita yang semakin padat demi mencapai target zero landfill," jelasnya.
Namun, Benyamin menekankan bahwa teknologi tidak akan maksimal tanpa penanganan darurat yang responsif.
Baca tanpa iklan