Harga Naik Jelang Lebaran, 15.000 Warga Jakarta dapat Akses Beli Sembako Murah
KADIN DKI Jakarta menggelar program tebus sembako murah yang menjangkau 15.000 warga di 10 kecamatan di wilayah DKI Jakarta.
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Kenaikan harga bahan pokok jelang Lebaran kembali menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah
- Sebanyak 15.000 warga di Jakarta mendapat akses sembako murah melalui program tebus di 10 kecamatan
- Program ini diharapkan meringankan beban sekaligus menjaga daya beli.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kenaikan harga bahan pokok menjelang Lebaran kembali menjadi tantangan tahunan yang berdampak pada daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.
Sejumlah komoditas seperti beras, minyak goreng, dan gula biasanya mengalami kenaikan harga seiring meningkatnya permintaan menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Kondisi ini kerap membuat beban pengeluaran rumah tangga semakin berat, khususnya bagi masyarakat dengan pendapatan terbatas.
Ketua Umum Kamar Dagang Industri (KADIN) DKI Jakarta, Diana Dewi, mengatakan tekanan harga kebutuhan pokok hampir selalu terjadi setiap menjelang Lebaran.
Baca juga: Kemnaker Koordinasikan Mudik Gratis bagi 12.690 Pekerja dan Ojol Jelang Lebaran
“Kami ingin memastikan masyarakat tetap bisa mengakses kebutuhan dasar dengan harga yang lebih terjangkau,” ujarnya di sela-sela program tebus sembako murah.
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, KADIN DKI Jakarta menggelar program tebus sembako murah yang menjangkau 15.000 warga di 10 kecamatan di wilayah DKI Jakarta.
Melalui program ini, masyarakat dapat memperoleh paket kebutuhan pokok dengan harga di bawah pasaran.
"Skema ini diharapkan mampu membantu meringankan beban pengeluaran sekaligus menjaga daya beli di tengah tren kenaikan harga," katanya.
Kegiatan tersebut dilaksanakan serentak di lima wilayah kota dengan melibatkan KADIN di tingkat kota serta dukungan dari pemerintah daerah.
Kolaborasi ini dinilai penting untuk memastikan distribusi bantuan berjalan merata dan tepat sasaran.
Diana menegaskan, peran dunia usaha tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Ini bukan sekadar sembako murah. Ini tentang bagaimana dunia usaha hadir di tengah masyarakat, bukan di atasnya. Karena ekonomi yang kuat lahir dari masyarakat yang juga kuat,” katanya.
Selain membantu masyarakat, keterlibatan pelaku usaha dalam program ini juga dinilai mampu menjaga perputaran ekonomi lokal. Distribusi sembako dengan harga lebih terjangkau dapat membantu menekan gejolak harga di tingkat konsumen, meskipun dalam skala terbatas.
Momentum Ramadan dinilai menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadapi tekanan ekonomi yang berulang setiap tahun.