Potret Pilu Usai Tragedi KRL di Bekasi, 16 Nyawa Hilang: Antara Harum Bunga dan Ironi Palang Bambu
16 nyawa hilang! Simak potret pilu rel Bekasi: Harum bunga duka bersanding dengan ironi palang bambu maut yang masih beroperasi. Klik.
Penulis:
M Alivio Mubarak Junior
Editor:
Acos Abdul Qodir
Ringkasan Berita:
- Wangi bunga duka hiasi stasiun, mengenang enam belas nyawa wanita yang hilang dalam tragedi maut.
- Ironisnya, jalur maut lokasi kecelakaan fatal tersebut ternyata masih beroperasi hanya dengan palang bambu.
- Penjaga rel liar tetap bertaruh nyawa demi recehan sukarela di tengah bayang-bayang duka mendalam.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, M. Alivio Mubarak Junior
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Suasana di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (29/4/2026), tampak berbeda.
Di salah satu sudut peron, aroma semerbak bunga menyeruak di antara kebisingan laju kereta api (KA).
Deretan rangkaian bunga dan pesan belasungkawa masyarakat tertata rapi, menjadi saksi bisu atas tragedi pilu Senin malam lalu.
Tragedi ini menorehkan luka mendalam bagi publik. Sebanyak 16 nyawa perempuan hilang dan 91 orang lainnya luka-luka dalam kecelakaan maut yang melibatkan KA jarak jauh Argo Bromo Anggrek dan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line di stasiun pinggiran Jakarta tersebut pada Selasa malam, 27 April 2026.
Sebuah kertas bertuliskan tangan terselip di antara mawar: "Doa untuk kalian para wanita hebat, semoga ini insiden terakhir."
Namun, tepat di luar pagar stasiun, sebuah ironi besar masih tegak berdiri. Jalur maut yang menjadi titik awal petaka itu nyatanya masih beroperasi dengan pengamanan seadanya.
Bambu Manual di Jalur Kereta
Tragedi ini bermula ketika sebuah taksi listrik mogok di perlintasan liar dekat stasiun yang hanya dijaga warga setempat.
Tanpa palang pintu otomatis resmi dari PT Kereta Api Indonesia (KAI), keamanan hanya bergantung pada sebilah bambu yang digerakkan secara manual.
Hingga kini, titik tersebut tetap aktif dijaga warga secara bergantian.
Bahar, salah satu penjaga, menuturkan bahwa sistem penjagaan dilakukan bergilir.
"Kalau yang jaga ganti-gantian. Ini kan memudahkan, kalau enggak lewat sini, menyeberang lewat mana lagi?" ujar Bahar, Rabu (29/4/2026).
Baca juga: FAKTA BARU Taksi Hijau di Tragedi Kereta Bekasi: Sopir Baru Kerja 2 Hari, Latihan Sehari
Realitas Receh di Jalur Maut
Para penjaga tidak menetapkan tarif, hanya mengandalkan pemberian sukarela pengendara antara Rp500 hingga Rp2.000.
Dalam sehari, uang yang terkumpul berkisar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu.
Baca juga: Korban Tragedi KRL Bekasi Timur Asal Wonogiri Tinggalkan Anak Balita
Bahar menegaskan aktivitas ini murni bantuan lapangan untuk mencari penghasilan kecil, bukan bagian dari struktur organisasi masyarakat (ormas) tertentu.
Baca tanpa iklan