Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Peringatan Dedi Mulyadi Diabaikan, Ormas Masih Kuasai Perlintasan Ampera di Bekasi

Perlintasan tersebut kini masih berada dalam penjagaan sejumlah anggota organisasi kemasyarakatan (ormas). 

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Peringatan Dedi Mulyadi Diabaikan, Ormas Masih Kuasai Perlintasan Ampera di Bekasi
Tribunnews.com/M Alivio Mubarak Junior
IRONI KESELAMATAN — Perlintasan liar kereta api di kawasan Bekasi Timur terpantau masih beroperasi menggunakan palang bambu manual. Perlintasan tersebut kini masih berada dalam penjagaan sejumlah anggota organisasi kemasyarakatan (ormas).  

Ringkasan Berita:
  • Perlintasan sebidang di Jalan Ampera, Bekasi Timur, yang menjadi lokasi kecelakaan KRL dan taksi listrik hingga berujung tragedi maut 16 korban jiwa, kini masih dijaga oleh anggota organisasi kemasyarakatan (ormas).
  • Aktivitas di titik tersebut belum sepenuhnya normal meski arus kereta sudah kembali berjalan.
  • Video viral menunjukkan ormas mengatur lalu lintas secara manual karena fasilitas pengamanan resmi seperti palang pintu otomatis dan sistem peringatan standar tidak tersedia. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Berikut kondisi terbaru dari perlintasan sebidang di Jalan Ampera, Bekasi Timur, yang beberapa hari lalu menjadi lokasi kecelakaan antara KRL dan taksi listrik.

Kecelakaan itu juga yang memicu kecelakaan lanjutan, benturan kencang KA Argo Anggrek dan KRL yang berbuntut tragedi maut menewaskan 16 penumpang.

Perlintasan tersebut kini masih berada dalam penjagaan sejumlah anggota organisasi kemasyarakatan (ormas). 

Aktivitas di titik tersebut tampak belum sepenuhnya normal, meski arus lalu lintas kereta sudah kembali berjalan.

Hal tersebut terlihat dalam sebuah video viral yang diunggah akun instagram @fakta.indo pada Jumat (1/5/2026).

Di sekitar rel, sejumlah orang terlihat berjaga sambil mengatur kendaraan yang melintas. 

Rekomendasi Untuk Anda

Mereka berdiri di sisi jalan dan dekat lintasan, menggantikan fungsi pengamanan yang seharusnya dilakukan secara resmi oleh petugas berwenang.

Kehadiran mereka memicu kekhawatiran soal keselamatan pengguna jalan.

Kondisi perlintasan itu sendiri masih minim fasilitas pengamanan. Tidak terdapat palang pintu otomatis maupun sistem peringatan standar, sehingga pengaturan lalu lintas sangat bergantung pada inisiatif warga atau pihak nonformal. 

Situasi ini disebut-sebut sudah berlangsung cukup lama sebelum kecelakaan terjadi.

Padahal, perlintasan tersebut sebelumnya menjadi titik awal rangkaian peristiwa tragis. 

Perintah KDM Diabaikan

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta aparat kepolisian segera menertibkan organisasi kemasyarakatan (ormas) yang menguasai pelintasan sebidang di Kota Bekasi

Pernyataan ini keluar setelah ia melihat penjagaan lintasan di lokasi kejadian tabrakan Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam yang menewaskan belasan orang  dilakukan ormas secara manual. 

Dedi Mulyadi menegaskan, aset publik tidak boleh dikuasai kelompok tertentu untuk kepentingan pribadi. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas