Harga Pertamax Melambung, Pekerja Kantoran Kini Harus Rogoh Kocek Lebih Dalam
Selain mengeluhkan kenaikan harga, Yosy juga menyoroti waktu pengumuman kebijakan yang dinilai terlalu mendadak.
Penulis:
Mario Christian Sumampow
Editor:
Muhammad Zulfikar
Ringkasan Berita:
- Kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax membuat pengeluaran bahan bakar sejumlah pengguna kendaraan meningkat signifikan.
- Yosy mengaku kebutuhan bensinnya kini jauh lebih besar dibanding sebelum harga Pertamax naik.
- Selain mengeluhkan kenaikan harga, Yosy juga menyoroti waktu pengumuman kebijakan yang dinilai terlalu mendadak.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax membuat pengeluaran bahan bakar sejumlah pengguna kendaraan meningkat signifikan.
Satu diantaranya dirasakan Yosy Aliffakry, pekerja kantoran yang setiap hari menempuh perjalanan pulang-pergi dari Meruya ke Kuningan, Jakarta.
Baca juga: Pertalite Diburu Imbas Pertamax Naik, Pemerintah Diminta Antisipasi Kelangkaan, Antrean Mengular
Yosy mengaku kebutuhan bensinnya kini jauh lebih besar dibanding sebelum harga Pertamax naik.
"Pulang-pergi sehari bisa 30 kilometer," kata Yosy kepada Tribunnews, Kamis (11/6/2026).
Baca juga: Harga Pertamax Naik, Pengamat: Masyarakat Bakal Kurangi Mobilitas dan Tunda Beli Mobil Baru
"Total, hitungan harusnya seminggu cukup 50 ribu karena dapat 4,5 liter, sekarang cuma dapat 3 liter," lanjut dia.
Menurut pria 29 tahun ini, kondisi tersebut membuat biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli BBM setiap pekan meningkat cukup besar.
Ia memperkirakan pengeluaran bensinnya kini bertambah hampir setengah dari sebelumnya.
"Jadi seminggu mesti ngisi jadi 80 ribuan. Hampir nambah biaya buat bensin 50 persen," tuturnya.
Yosy tidak memiliki banyak pilihan untuk menghemat pengeluaran BBM seperti beralih ke jenis bahan bakar yang lebih murah misalnya.
Sebab, kendaraan yang digunakan punya spesifikasi mesin yang mengharuskan penggunaan Pertamax.
"Enggak bisa, kompresi mesinnya enggak cocok, paling rendah Pertamax bisanya," ungkap Yosy.
Selain mengeluhkan kenaikan harga, Yosy juga menyoroti waktu pengumuman kebijakan yang dinilai terlalu mendadak.
Ia mengaku sempat menunda mengisi bensin pada malam hari sebelum kenaikan harga berlaku karena mengira masih bisa mengisi keesokan paginya.
Namun saat hendak mengisi BBM keesokan harinya, harga Pertamax sudah mengalami kenaikan.
"Kalau bisa, BBM naik, warga dikasih tahu di awal, jangan berubah dalam semalam," pungkasnya.
Sebagai informasi, harga BBM non-subsidi jenis Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau bertambah Rp3.950 per liter mulai 10 Juni 2026.
Kenaikan juga terjadi pada Pertamax Green yang naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter atau bertambah Rp4.100 per liter.
Sementara itu, harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex tidak berubah.
Begitu pula BBM subsidi jenis Pertalite dan Biosolar yang tetap dijual dengan harga sebelumnya.
Baca juga: Harga Pertamax Disebut Bisa Tembus Rp20.000, DPR: Pemerintah Masih Tahan Harga BBM
Mahasiswa akan Demo Imbas Kenaikan BBM
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seluruh fakultas di Universitas Indonesia (UI) akan menggelar aksi demonstrasi di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Jumat (12/06/2026).
Aksi ini didorong rasa prihatin terhadap kondisi ekonomi yang dinilai semakin membebani masyarakat.
Para mahasiswa menyoroti kenaikan harga kebutuhan pokok, sempitnya lapangan kerja, hingga kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.
"Kami juga mengundang kepada seluruh elemen masyarakat: mahasiswa, buruh, guru, pedagang, ibu rumah tangga, serta komunitas pecinta pelari serta siapapun yang merasakan bahwa negara ini sedang berjalan ke arah yang salah," kata Ketua BEM UI, Yatalathof Ma'shum Imawan dalam keterangannya, Kamis (11/06/2026).
Adapun dalam aksi tersebut, akan disampaikan lima tuntutan utama, yakni:
1. Menghentikan pemborosan APBN
2 Menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM
3. Menghentikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pembangunan Koperasi Desa Merah Putih
4. Menghentikan militerisme di ranah sipil
5. Meminta Presiden Prabowo Subianto mengakui kesalahan pemerintah.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.