Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Saat PAW, Ketua MPR Tekankan Pentingnya Kesolehan Sosial di Saat Bulan Puasa

Inilah saatnya kita mengulurkan tangan, membantu meringankan beban saudara-saudara yang tertimpa bencana.

Saat PAW, Ketua MPR Tekankan Pentingnya Kesolehan Sosial di Saat Bulan Puasa
Istimewa
Ketua MPR Bambang Soesatyo melantik Muhammad Rizal sebagai anggota baru MPR. Muhammad Rizal merupakan anggota Fraksi PAN dari Dapil III Banten, Rabu (21/4/2021). 

TRIBUNNEWS.COM - Bertempat di Ruang Delegasi, Gedung Nusantara V, Komplek Gedung MPR/DPR, Jakarta, 21 April 2021, Ketua MPR Bambang Soesatyo melantik Muhammad Rizal sebagai anggota baru MPR. Muhammad Rizal merupakan anggota Fraksi PAN dari Dapil III Banten.

Di awal sambutan, Bambang Soesatyo mengatakan dirinya mendapat informasi bahwa Muhammad Rizal sudah lama mengabdikan diri di lingkungan Sekretariat Jenderal MPR. Beberapa jabatan penting seperti Kepala Pusat Pengkajian, Kepala Biro Humas, Kepala Biro Persidangan, dan Kepala Biro Sekretariat Pimpinan pernah diemban.

“Saya yakin dengan bekal pengabdian yang panjang di sekretariat jenderal akan memudahkan saudara dalam melaksanakan wewenang dan tugas konstitusional di majelis terhormat ini,” ujarnya.

Bambang Soesatyo merasa gembira saat ini umat Islam menjalankan ibadah puasa. Ia mengucapkan selamat ibadah puasa kepada seluruh umat Islam yang melaksanakan ibadah itu. “Semoga melalui ibadah puasa, kita semua dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT,” tuturnya. Diharapkan di bulan puasa ini, umat Islam dapat menumbuhkan kembangkan kesolehan sosial dengan selalu menampilkan sikap jujur, saling peduli, memahami, menghargai, mengasihi, dan menolong di antara sesama manusia dan warga bangsa.

Diungkapkan di bulan puasa ini banyak saudara kita yang mengalami musibah bencana alam seperti erupsi gunung berapi, banjir bandang, dan gempa bumi yang menimpa beberapa wilayah di tanah air.

“Inilah saatnya kita mengulurkan tangan, membantu meringankan beban saudara-saudara yang tertimpa bencana,” ujarnya.

Di saat inilah menurut Bambang Soesatyo waktu yang tepat untuk membuktikan bahwa nilai-nilai Empat Pilar MPR, benar-benar dapat teraktualisasikan dalam kehidupan nyata masyarakat Indonesia. Terlebih bagi anggota MPR yang mengemban tugas memasyarakatkan Empat Pilar sudah selayaknya memberikan contoh keteladanan dalam pengamalan.

Disampaikan, sejalan dengan larangan mudik yang telah ditetapkan pemerintah, dirinya mengajak masyarakat untuk mengartikan larangan tersebut sebagai ajakan kepada semua untuk mampu mengendalikan diri sebagai esensi dari ibadah puasa.

Ditegaskan peringatan WHO bahwa pandemi Covid-19 masih jauh dari selesai. “Perlu kita sadari bersama bahwa hingga kemarin, jumlah orang yang telah mendapat vaksinasi tahap pertama baru sekitar 11 juta orang,” ujarnya. Hal demikian menurutnya sekitar 27 persen dari target 40,3 juta orang. Dari angka tersebut baru sekitar 6,1 juta orang yang telah menjalani vaksinasi tahap kedua atau sekitar 15 persen dari target yang ditetapkan.

Untuk itu dikatakan, ketaatan kita untuk tidak mudik pada lebaran tahun ini adalah bagian dari implementasi dan peningkatkan kesolehan sosial dalam rangka melindungi saudara-saudara terdekat dan tetangga dari potensi penularan Covid-19.

Dalam kesempatan itu, Bambang Soesatyo juga menilai tentang Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Tentang Standar Nasional Pendidikan yang tidak mencantumkan Pendidikan Pancasil dan Bahasa Indonesia sebagai mata kuliah/pelajaran wajib.

“Pimpinan MPR menyesalkan dan meminta pemerintah untuk mengkaji kembali,” paparnya.

Menurutnya hal demikian selain tidak selaras dengan UU Tentang Pendidikan Tinggi dan peraturan pemerintah yang mengatur tentang pendidikan dasar dan menengah, yang mewajibkan Pancasila dan Bahasa Indonesia sebagai mata kuliah/pelajaran wajib. “Pimpinan MPR menilai peraturan pemerintah tersebut dibuat tanpa informasi lengkap dan pertimbangan yang mendalam serta mencerminkan sikap yang tidak bertanggungjawab terhadap Pancasila dan bangsa Indonesia sendiri,” ujarnya.

Disampaikan MPR berpendapat bahwa Pancasila dan Bahasa Indonesia hendaknya wajib ditanamkan kepada seluruh anak bangsa, agar tumbuh rasa nasionalisme, dan cinta tanah air sejak dini.

Ikuti kami di
Editor: Content Writer
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas