Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Hari Koperasi Ke-74, Fadel Ajak Masyarakat Aktualisasikan Tujuan Agar Koperasi Mandiri dan Kuat

Jiwa koperasi, menurut Fadel Muhammad, cocok dengan keseharian bangsa Indonesia, yakni gotong-royong, kebersamaan, musyawarah, dan demokrasi.

Hari Koperasi Ke-74, Fadel Ajak Masyarakat Aktualisasikan Tujuan Agar Koperasi Mandiri dan Kuat
MPR RI
Wakil Ketua MPR RI, Fadel Muhammad 

TRIBUNNEWS.COM - Wakil Ketua MPR Prof. Dr. Ir. Fadel Muhammad mengakui, dalam era globalisasi terjadi pertarungan kekuatan ekonomi yang demikian dahsyat. Kekuatan-kekuatan modal besar selain mengembangkan diri di negaranya juga menyerbu negara-negara yang mempunyai potensi pasar yang tinggi, seperti di negara-negara Asia dan Afrika, termasuk Indonesia. Masifnya serbuan modal besar di Indonesia, baik yang datang dari luar maupun dalam negeri, cukup mengkhawatirkan karena berdampak kurang baik pada pelaku usaha kecil. “Kita khawatir terhadap sektor usaha mikro, kecil, dan menengah ketika kekuatan modal besar semakin menggurita,” kata Fadel Muhammad, di Jakarta (11 Juli 2021).

Untuk melindungi keberadaan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), mantan Gubernur Gorontalo itu berharap pemerintah tidak hanya melindungi namun juga memperhatikan dan menjamin pasar yang ada. Pemerintah harus aktif dalam memberi perlindungan sektor UMKM. “Di sinilah saya mengajak kepada bangsa Indonesia untuk mengaktualisasikan tujuan koperasi,” ujarnya.

Menurut Fadel, koperasi bukan barang baru di Indonesia. Sejak kedatangan bangsa Eropa bangsa Indonesia sudah mengenal koperasi. Sistem ini kemudian dikembangkan oleh organisasi-organisasi pergerakan yang ada di zaman Hindia-Belanda. Boedi Oetomo, Sarekat Dagang Islam, dan berbagai organisasi lainnya memgembangkan koperasi. Bahkan disebutkan cikal bakal koperasi sudah dirintis oleh Aria Wiriaatmadja di Purwokerto sejak tahun 1896 dengan mendirikan ‘Hulp en Spaarbank’ (Bank Pertolongan dan Simpan), di mana usaha itu sistemnya mirip koperasi dan mulai memberikan pinjaman kepada pegawai negeri. “Keberadaan koperasi selanjutnya semakin monumental ketika Wakil Presiden Indonesia, Mohammad Hatta, ditetapkan sebagai Bapak Koperasi saat Kongres Koperasi Indonesia pada tahun 1953,” tutur pria alumnus ITB itu.

Jiwa koperasi, menurut Fadel Muhammad, cocok dengan keseharian bangsa Indonesia, yakni gotong-royong, kebersamaan, musyawarah, dan demokrasi. Untuk itulah dalam menghadapi serbuan kekuatan modal besar, pelaku sektor UMKM untuk bersatu dan mengaktualisasi tujuan koperasi. Sektor ini sangat potensial, sebab ada sekitar 126.000 koperasi di Indonesia. “Ayo kita aktualisasikan tujuan koperasi,” tegas Fadel Muhammad.

Untuk mengaktualisasi koperasi, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu mengacu pada UU No. 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian. Disebutkan dalam undang-undang itu, tujuan koperasi adalah membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya serta masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial, berperan secara aktif dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, memperkukuh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko guru, berusaha mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi. “Dari sini jelas tujuan koperasi, yakni mensejahterakan anggotanya. Juga sebagai kekuatan dan ketahanan ekonomi  nasional,” tambahnya.

Menghadirkan kembali atau aktualisasi koperasi, menurut Fadel Muhammad, tak hanya menjadikan koperasi sebagai ‘soko guru’ perekonomian nasional, namun juga melindungi masyarakat dari sistem pinjaman dengan bunga yang tinggi. Dulu, bahkan hingga kini, banyak masyarakat yang meminjam uang dari rentenir untuk berbagai macam keperluan, termasuk modal usaha. Namun sistem tersebut sangat memberatkan masyarakat sebab bunganya tinggi. Akibatnya, beban yang ditanggung masyarakat semakin berat bahkan banyak yang tidak mampu membayar. Sistem seperti itu dipilih oleh masyarakat karena cara meminjamnya yang gampang, apalagi dengan iming-iming seperti “bisa langsung cair.” Di era sekarang ketika sistem pinjam-meminjam sudah difasilitasi sistem online, banyak juga tawaran pinjaman online yang bunganya sangat tinggi. “Sekarang meminjam uang kepada rentenir semakin marak, mudah, dan cepat, seperti pinjaman online (pinjol),” ungkapnya. Akan tetapi, Fadel mengingatkan, meski sistem pinjaman itu sangat mudah namun ada bahaya di sana.

Untuk itulah Fadel Muhammad menegaskan perlunya koperasi hadir untuk menjawab berbagai macam problem dan keluhan keuangan dari masyarakat. “Koperasi adalah milik anggota, pastinya semua diurus dengan kebersamaan dan tidak memberatkan,” paparnya.

Fadel Muhammad menyebut, serbuan perusahaan global itu tidak hanya mengandalkan modal besar namun juga ditopang sistem organisasi yang modern berbasis pada teknologi. Karena itu koperasi pun harus mampu mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. “Ini diperlukan agar koperasi tidak ketinggalan zaman,” tuturnya. Lebih lanjut dikatakannya, saat ini pelayanan yang diinginkan oleh masyarakat serba cepat sehingga koperasi harus mampu menjawab tantangan itu. “Bila koperasi mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman maka akan semakin banyak masyarakat, termasuk generasi milenial, bergabung dan merasakan manfaat koperasi,” paparnya.

Agar koperasi semakin berkembang dan eksis di tengah masyarakat, Fadel Muhammad berharap pemerintah memberikan bantuan kepada koperasi. Bantuan itu tidak hanya berupa modal namun juga pelatihan sumber daya manusia. “Diberi pelatihan bagaimana implementasi teknologi dalam mengelola koperasi,” tuturnya. “Paling penting juga, ada kemudahan izin dalam mendirikan koperasi,” tambahnya.

Pada peringatan Hari Koperasi ke-74 pada 12 Juli 2021, Fadel Muhammad mengajak kepada bangsa Indonesia untuk menjadikan Hari Koperasi sebagai momentum untuk memupuk semangat gotong-royong di antara sesama anak bangsa. “Di tengah Pandemi Covid-19 seperti ini semangat untuk bergandengan tangan menyelesaikan persoalan bersama menjadi penting,” tuturnya.

Koperasi yang menjadikan semangat tolong-menolong dalam kemandirian ekonomi sangat penting untuk memupuk kemandirian bangsa di tengah ancaman krisis yang ada di depan mata. “Dengan semangat kemandirian ini pula saya yakin koperasi bisa bangkit dan menjadi pelopor bagi kemandirian bangsa dan kejayaan Indonesia. Sekali lagi, selamat Koperasi Indonesia. Koperasi Mandiri, Indonesia Kuat, Indonesia Jaya,” tuturnya.(*)

Editor: Content Writer
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas