Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Dideklarasikan di Bandung, Serikat Rakyat Gotong Royong Libatkan Berbagai Elemen

SRGR akan buat berbagai kegiatan yang sifatnya lebih ke masyarakat bawah. Misalnya melakukan aksi bakti sosial, pendampingan hukum, dan kegiatan lain

Dideklarasikan di Bandung, Serikat Rakyat Gotong Royong Libatkan Berbagai Elemen
Istimewa
Wakil Ketua MPR RI, Jazilul Fawaid berfoto bersama Serikat Rakyat Gotong Royong 

TRIBUNNEWS.COM - Serikat Rakyat Gotong Royong (SRGR) akan dideklarasikan di Bumi Sangkuriang, Kiputih, Kota Bangdung, Jawa Barat pada hari ini, Jumat (24/9/2021). SRGR akan melibatkan berbagai elemen masyarakat dari berbagai latar belakang profesi, hobi, suku, ras agama dan keragaman lainnya untuk bersama-sama berbuat yang terbaik untuk bangsa.

”Kita harus memiliki visi kegotongroyongan. Artinya lintas agama, etnis, suku, hobi, gender dan umur tanpa ada sekat. Gotong royong itu semangatnya universal. Prinsipnya dalam organisasi ini setara, bebas, kebersamaan, kesetaraan, dan persaudaraan. Itu yang menjadi prinsip utama dari Serikat Rakyat Gotong Royong,” ujar Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid yang juga inisiator SRGR, menjelang deklarasi hari ini.

Gus Jazil–sapaan akrab Jazilul Fawaid–mengatakan, saat ini masyarakat dilanda berbagai persoalan. Tidak hanya masalah kesehatan akibat pandemi Covid-19, namun juga persoalan ekonomi, ketidakadilan, sulitnya akses pendidikan, dan berbagai persoalan hidup lainnya. Untuk itu, dibutuhkan sebuah gerakan yang bisa menggalang kebersamaan untuk melakukan hal-hal positif yang bermanfaat untuk masyarakat.

”Di tengah berbagai kesulitan dan persoalan hidup, hal yang paling diperlukan adalah kesatupaduan. Tidak ada yang lain. Kita perlu meningkatkan, menguatkan barisan untuk menghadapi kondisi yang tidak cukup baik ini. Dan kuncinya adalah gotong royong untuk saling menguatkan,” tuturnya.

Dikatakan Gus Jazil, gotong royong dalam konteks hari ini disebut kolaborasi atau kerjasama. Sebab, hari ini tidak ada kekuatan yang dominan sendiri. Kekuatan itu justru muncul melalui kolaborasi. Nantinya, SRGR akan buat berbagai kegiatan yang sifatnya lebih ke masyarakat bawah. Misalnya melakukan aksi bakti sosial, pendampingan hukum, dan berbagai kegiatan lain yang bermanfaat untuk kepentingan rakyat.

Joe, personel Project-P, mengapresiasi gagasan lahirnya SRGR. ”Di saat-saat kita lagi bingung, di tengah kondisi yang serba sulit saat ini, pandemi bukan hanya soal ekonomi, tapi juga ide dan kreativitas itu terhenti. Dan di saat seperti ini justru muncul gagasan sebuah kerja sosial yang luar biasa makanya saya terpanggil untuk terlibat. Karena itu, saya akan hadir dan inginnya saya bisa mendukung,” ungkapnya.

Rere, seorang entrepreneur yang juga selebgram menuturkan bahwa gotong royong ini adalah kata atau slogan yang sudah lama tidak terdengar. ”Ini luar biasa karena ini kembali kita gelorakan lagi, digalakkan lagi, dan gotong royong itu cuma ada di Indonesia. Di luar negeri kebanyakan kan hidup sendiri-sendiri, di Indonesia sudah menjadi kebiasan kita saling membantu, saling bergotong royong,” tuturnya.

Bang Pacun dari Gus Durian Jawa Barat-Banten, mengatakan bahwa SRGR merupakan wadah bagi siapapun lintas agama, suku, profesi karena semangat gotong royong adalah implementasi dari semangat Pancasila, Bhineka Tunggal Eka, NKRI, dan UUD 1945. ”Semangat bergotong royong, mari bergotong royong menyongsong Indonesia yang lebih tangguh,” katanya. (*)

Editor: Content Writer
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas