Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Istri Syaifullah: Kalau Ada Kesalahan Iful Mohon Maaf

Isnainijah Sri Rohmani, istri Muhammad Syaiful Kepala Biro Kompas wilayah Kalimantan memintakan maaf atas kesalahan suaminya semasa hidup.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Amalia Husnul Rofi'ati

TRIBUNNEWS.COM, BALIKPAPAN - Isnainijah Sri Rohmani, istri Muhammad Syaiful, wartawan sekaligus Kepala Biro Kompas wilayah Kalimantan yang tiba di Balikpapan, Senin (26/7/2010) terlihat tabah saat menjemput jenazah suaminya. Di hadapan wartawan, polisi, dan rekan-rekan lainnya selama di Rumah Sakit Bhayangkara, Isna begitu ia biasa disapa tidak terlihat menangis. Hanya sesekali ia menitikkan airmata.

Isna berusaha untuk selalu tabah terlebih di hadapan kedua anak perempuannya, Nadhila Amajida dan Najmi Izzah Sabrina. "Istrinya hebat. Tabah," tutur Endang, awak Sirkulasi Kompas di Banjarmasin.

Begitu mendengar berita duka, Isna segera memutuskan menjemput suaminya ke Balikpapan. Endang dan rekan-rekannya menawarkan menjemput kedua anaknya,  Dhila dan Naja di sekolah. "Tapi, mbak Isna bilang biar saya sendiri yang jemput. Saya yang harus mengatakan kepada anak-anak," cerita Endang.

Dhila yang duduk di kelas II SMP menurut Endang sudah terlihat tenang ketika Isna tiba di sekolah. Dalam perjalanan menjemput Dhila, Isna telah menelpon Dhila. Namun, tangisan Naja, putri bungsu Ipul, panggilan Muhammad Syaiful yang masih duduk di kelas 1 SD tidak terelakkan.

Dhila dan Naja lebih tenang saat menempuh perjalanan Banjarmasin- Balikpapan. "Karena ibunya kuat, mereka juga kuat," imbuh Endang. Setibanya di Balikpapan, Isna bukan hanya didampingi Endang tetapi juga Benny, rekan jurnalis sekaligus sahabat Ipul.

Benny adalah orang pertama yang dihubungi Isna ketika ia tidak bisa menelpon suaminya. Karena Benny berada di Samarinda, Benny meminta teman lainnya yang berada di Balikpapan. Menurut Benny, awalnya Isna tidak ingin melihat jenazah suaminya. Namun Benny mengatakan,

"Yakin tidak mau melihat. Ini terakhir kalinya, karena setelah otopsi sudah tidak sama lagi. Mendengar penjelasan Benny, Isna menguatkan diri melihat jenazah suaminya. "Tapi, temenin ya mas," pintanya.

Rekomendasi Untuk Anda

Saat inilah Isna limbung. "Sempat mau terjatuh ketika mau berdiri," cerita Benny. Meski begitu, Isna masih belum menangis. "Tangisnya baru pecah ketika ia berada di dalam ruangan, setelah kedua anaknya di ajak keluar," kata Benny.

Selama di RS Bhayangkara, Isna berada di Ruangan Kaur Kesamapta. Hanya Dhila dan Naja yang berusaha membunuh waktu menunggu otopsi ayahnya dengan berjalan-jalan di sekitar halaman rumah sakit. Keduanya juga sempat melihat pemandangan pantai di belakang rumah sakit. "Aduh...ada semut merah, kakiku digigit lagi," kata Naja yang parasnya mirip sang ayah.

Dhila dan Naja memang terlihat jauh lebih tenang. Dhila sempat termenung sejenak menghadap ke pantai. Menjelang senja, Isna, Dhila, dan Naja beristirahat sejenak di hotel.   Keluarga Ipul baru kembali ke rumah sakit sekitar pukul 20.30 saat jenazah usai diotopsi.

Selesai otopsi, jenazah disemayamkan di mushola rumah sakit untuk dishalatkan. Setibanya di rumah sakit, Isna, Dhila, dan Naja melihat jenazah ayahnya. Dhila dan Naja kembali terlihat sedih. Naja bahkan sesenggukan.

Isna berdoa di sisi peti suaminya. Sebelum diberangkatkan ke Kandangan, Banjarmasin, satu persatu rekan dan sahabat Ipul yang telah berkumpul menyalami Isna dan mengucapkan belasungkawa. Termasuk juga dua mantan Kepala Biro Kompas Kalimantan lainnya, Markus Suprihadi dan Tri Haryono.

"Kalau ada kesalahannya, maafkan Iful..." kata Isna kepada Sancuk, panggilan akrab Markus Suprihadi di kalangan rekan wartawan.  

Jenazah Iful diberangkatkan ke Banjarmasin lewat jalan darat diiringi istri, kedua anaknya, serta seluruh rekan-rekannya meninggalkan rumah sakit sekitar pukul 21.15 Wita. Turut serta dalam rombongan tersebut adalah Trias Kuncahyono, Wakil Pemimpin Redaksi Kompas; Hariyadi, Redaktur Biro Daerah Kompas; Tri Haryono, Sancuk, dan Achmad Subechi, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim. Rencananya, jenazah akan melewati penyeberangan fery Balikpapan-Penajam sebelum kembali melanjutkan jalan darat ke Kandangan melalui Penajam.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas