Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Ini Testimoni Ketua Umum PBNU Menyambut Obama

Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siradj menyiapkan sambutan khusus dalam kunjungan Presiden Amreika Serikat Barrack Obama ke Indonesia.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Rachmat Hidayat
Editor: Juang Naibaho

Dunia menyaksikan AS seringkali menerapkan standar ganda dalam perumusan dan eksekusi kebijakan-kebijakannya. Pada satu sisi mengampanyekan demokrasi di level wacana, namun di sisi lain justru banyak praktik yang berseberangan dengan nilai-nilai demokrasi.

Dalam contoh kasus Israel-Palestina, misalnya, kita bisa bertanya mengapa Pemerintah AS hanya diam dan membiarkan keterindasan masyarakat Palestina berlarut-larut sementara kepentingan Israel lebih banyak dibela?

Contoh lain adalah perang saudara di Afghanistan. Sudah semestinya AS tidak perlu ikut campur terlalu jauh dan dalam pada persoalan ini hingga mengirim tentara. Menurut hemat saya, perang saudara di Afghanistan adalah urusan masyarakat Afghanistan yang penyelesaiannya justru lebih efektif jika diinisiasi oleh orang Afghanistan sendiri.

Keterlibatan AS secara militer dan politik yang terlalu jauh tidak menyelesaikan masalah, namun justru bisa menambah dan memperluas skala masalah yang sudah ada. Di sini, saya perlu menegaskan bahwa kami tidak pernah membenci AS, namun kami tidak senang dengan sejumlah kebijakan AS yang membuka celah konflik dan kesenjangan di dunia internasional.

Saat ini masih ada waktu dan kesempatan bagi AS untuk mengembalikan atau merehabilitasi nama baiknya di mata umat Islam. Jangan sampai AS kehilangan atau melewatkan kesempatan berharga ini. Kesempatan ini antara lain ditandai dengan kian banyaknya upaya-upaya tokoh-tokoh muslim moderat yang gigih menampilkan wajah Islam yang ramah, terbuka, dan jamak.

Islam sebagai sebuah keyakinan relijius, praktik kebudayaan, dan khazanah keilmuan tidak berwajah tunggal atau monolitik.

Perbedaan adalah sesuatu yang dalam historisitas peradaban Islam bisa dimoderasi dengan banyak cara. Perbedaan demi perbedaan diolah dalam rangka memperkaya keluasan pandangan dan cakrawala berpikir. Dalam aneka perbedaan itulah, jumlah tokoh dan organisasi Islam yang mendakwahkan nilai-nilai moderat jauh lebih banyak daripada tokoh dan organisasi yang menampilkan Islam dengan perspetif kebenaran tunggal.

Rekomendasi Untuk Anda

Dengan demikian, saya berharap kedatangan Obama kali ini bisa meningkatkan hubungan Indonesia-AS dalam hubungan kemitraan yang setara. Orientasi yang perlu untuk selalu ditekankan adalah orientasi kemaslahatan bagi rakyat.

Keberhasilan hubungan kedua negara sangat berpengaruh bukan hanya untuk Indonesia atau AS, namun juga bagi iklim dialog dunia internasional. Jika hubungan kemitraan yang baik bisa terwujud, fenomena Obama akan sesuai dengan namanya sendiri: barrack, barokah, berkah.

Akhir kata, kalau ada pihak-pihak yang keberatan dengan kunjungan Obama, hendaknya hal itu disampaikan dengan cara yang baik dan santun. Dengan sikap ini, setidaknya kita ikut serta untuk tidak memperbanyak alasan dan pembenaran bagi prasangka negatif yang selama ini sering dialamatkan pada kita.(*)

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas