Soeharto Tak Gubris Pesan BJ Habibie (2)
BJ Habibie sulit menemui Presiden ke-2 RI, Soeharto. Soeharto ternyata sama sekali tidak menggubris pesan Habibie.
Editor: Ade Mayasanto

Draf penguduran para menteri dibuat Akbar Tandjung dan dikirimkan kepada Soeharto.
Selanjutnya para menteri tersebut melanjutkan pertemuan di rumah Wakil Presiden BJ Habibie.
Ary kemudian mendapat informasi dari Mbak Tutut (saat itu menjabat Menteri Sosial), surat dari 14 menteri telah diterima Soeharto sembari menambahkan ayahnya akan mundur pada 21 Mei 1998.
Beberapa hari setelah BJ Habibie dilantik menjadi presiden, Ary mengunjungi pakar pesawat terbang tersebut atas permintaan Marwah Daud Ibrahim.
Satu jam Habibie bercerita panjang lebar, yang pada akhirnya curhat mengenai kesulitannya bertemu Soeharto.
Tiga pesan pribadi
Habibie kemudian minta bantuan Ary Mardjono menyampaikan tiga pesan pribadi kepada Soeharto.
Sayang Ary tak mengungkapkan apa isi pesan Habibie tersebut.
"Tiga poin pesan pribadi itu tidak dapat saya sampaikan di sini mengingat pesan penting dan bersifat sangat pribadi itu saya anggap off the record," kata Ary.
Malam itu juga Ary menemui Soeharto. Selama mendengar isi pesan dari Habibie, Soeharto hanya tersenyum.
"Saya melihat ada keraguan tersirat dari wajahnya. Pada akhirnya saya baru menyadari bahwa ternyata salah satu dari poin pesan BJ Habibie itu tidak dapat dilaksanakannya," kenang Ary.
Alumni Akademi Militer Nasional 1962 itu memberanikan diri bertanya, apakah Soeharto marah kepada Habibie sehingga menolak bertemu.
"Saya justru menjaga nama baik Habibie. Apa komentar orang kalau presiden baru sering bertemu dengan mantan presiden, sehingga presiden baru terkesan berada di bawah bayang-bayang mantan presiden," jawab Soeharto.
Jawaban tersebut, menurut pendapat Ary, merupakan kalimat bijaksana.
Namun Ary meyakini jawaban itu bukan jawaban sesungguhnya dari Soeharto.
Saat itu sebenarnya Ary ingin memberitahu Soeharto mengenai rapat yang digelar Ginanjar Kartasasmita sehari sebelum pengunduran diri sang presiden.
"Agar beliau memperoleh informasi akurat dari tangan pertama. Namun saya tidak sampai hati menambah kecewa hati Pak Harto," ungkap Ary Mardjono.