Heldy Kecil Kepincut Lihat Soekarno (2)
USIANYA masih 10 tahun. Suatu hari di tahun 1957, Heldy Djafar, merengek meminta kakaknya untuk ikut menyaksikan pidato Soekarno.
Penulis:
Achmad Subechi
Editor:
Ade Mayasanto
Laporan Wartawan Tribunnews.com Achmad Subechi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - USIANYA masih 10 tahun. Suatu hari di tahun 1957, Heldy Djafar, menyaksikan sebuah mobil bak terbuka yang melintas di depan rumahnya. Para penumpang mobil menyebarkan selebaran berisi pengumuman bahwa akan ada pidato Presiden Soekarno di Samarinda.
Kakak kandung Heldy, bernama Yus, tak mau ketinggalan. Ia ikut memunggut lembaran kertas itu. Sambil berdiri di balik pagar rumahnya, Jalan Mangkurawang, Tenggarong, bocah itu sempat bertanya kepada kakaknya. "Ada apa Kak ke Samarinda?" "Bapak Presiden mau pidato di sana, saya mau mendengarkan langsung di alun-alun Samarinda," kata Yus.
Mendengar penjelasan dari kakaknya, Heldy mulai merengek. "Aku mau ikut dengarkan pidato Presiden. Aku juga mau lihat langsung wajah Bapak Presiden."
"Tidak usahlah, kau masih anak-anak, kau mengerti apalah, sudah masuk rumah," pinta Yus.
Setelah mengajak adiknya masuk ke dalam rumah, Yus, bergegas lari, mengejar rombongan manusia yang hendak pergi ke Samarinda.
Heldy lalu masuk ke kamar ibunya Hj Hamiah. Seketika itu juga ia menangis. "Mau lihat Presiden... mau lihat Presiden..." rengeknya.
Mendengar tangis anaknya, sang ibunya malah geram. Gadis kecil itu dicubitnya. "Kayak nenek moyangnya aja yang datang. Tidak boleh ikut, nanti kegencet orang banyak, kamu anak kecil memang tahu apa tentang pidato Presiden. Saudara juga bukan. Sudahlah diam, dan sudahlah cukup dengarkan pidato Presiden lewat radio. Duduklah!"
Maklum, namanya saja anak kecil. Walau sudah diberitahu, Heldy masih saja tetap merengek. Ia masih saja menangis hingga sore hari.
Keinginan Heldy untuk melihat dari dekat pidati Presiden Soekarno itu, mungkin terpicu dengan gambar-gambar Bung Karno dalam bentuk kalender maupun hiasan dinding yang terpajang di rumahnya.
"Di rumah kami, gambar Bung Karno ada dimana-mana. Dalam bentuk kalender maupun hiasan dinding. Maklum saja, saat itu Bung Karno adalah presiden kebanggaan seluruh rakyat Indonesia," kenang Erham, kakak kandung Heldy yang paling tua. (Bersambung)