Jelang Tewas, Kapten Ali Mustofa Kirim SMS Religius
Kapten Pnb Ali Mustofa yang meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat latih di Dusun Jetis, Magelang.
Editor:
Ade Mayasanto
TRIBUNNEWS.COM, SLEMAN - Duka mendalam menyelimuti jajaran TNI AU Lanud Adi Sutjipto setelah kepergian seorang putra terbaiknya, Kapten Pnb Ali Mustofa yang meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat latih di Dusun Jetis, Desa Kedungsari, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Jumat (6/1/2012).
Duka mendalam juga tampak jelas dirasakan keluarga serta teman - teman terdekat almarhum. Hal ini terlihat saat kedatangan anggota keluarga almarhum di Ruang jenazah Rumah Sakit Harjo Lukito, Yogyakarta pada pukul 16.45 WIB. Tampak hadir istri almarhum, Rina Hari Utami, yang terus-menerus menangis tersedu-sedu sembari menggendong buah hatinya. Ia dipapah turun dari mobil menuju ruangan dimana suaminya disemayamkan.
Setelah sekitar 10 menit berlalu, Rina keluar dari ruangan jenazah sambil terus terisak dengan tatapan kosong. Tak berselang lama, lantunan tahlil pun terdengar mengiri peti jenazah yang dikeluarkan dari ruangan tersebut, dan kemudian dimasukan ke mobil ambulan menuju Hanggar C TNI AU Lanud Adi Sutjipto untuk disemayamkan selama satu malam. Hari ini, Sabtu (7/1) menurut rencana, jenazah diberangkatkan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Cawang, Magelang untuk dimakamkan lewat sebuah upacara militer.
Kepergian ayah tiga anak ini memang sangat dirasakan para sahabatnya. Terlebih ia meninggal secara mendadak dalam sebuah kecelakaan pesawat dimana dirinya tengah menjalankan profesinya sebagai instruktur penerbangan. Hal inilah yang dirasakan Kapten Pnb Pandu, rekan seprofesi almarhum. Ditemui saat berada di RS Harjo Lukito, Pandu mengaku sempat memperoleh pesan singkat relijius dari almarhum. Tepatnya seminggu sebelum kecelakaan merenggut sahabat dekatnya itu.
Pesan singkat itu berisi ajakan untuk memahami makna kehidupan dan ajaan untuk mengingat sang pencipta. Sebuah pesan yang diakuinya biasa diberikan almarhum kepada rekan-rekan seprofesinya.
"Bos, sebenarnya kita di dunia ini mau ngapain? Apa yang akan terjadi satu detik kemudian kita tak pernah tahu," ungkapnya menirukan satu penggalan sms yang dikirimkan almarhum.
Saat itu, Pandu tak merasakan firasat apa-apa, lantaran dalam kesehariannya, alumni Akademi Angkatan Udara tahun 2000 ini memang dikenal sebagai perwira yang sangat islami. Bahkan ia kerap menjadi pembimbing agama dan menjabat sebagai perwira rohani di kesenatan. "Beliau sangat rohis, begitu islami. Beliau juga tak pernah lupa untuk selalu mengingatkan para sahabatnya terutama untuk menjalankan ibadah," jelasnya.
Barulah Pandu menyadari makna sms yang dikirimkan almarhum setelah sebuah kecelakaan merenggut nyawa sahabat yang ia kenal dekat tersebut. "Tentu merasa sangat kehilangan sosok seorang ustadz diantara kami," imbuhnya.
Adapun terkait kecelakaan tersebut, Pandu menjelaskan bahwa pesawat dalam kondisi baik. Sementara terbang solo yang dijalani almarhum merupakan bagian dari rutinitas yang sudah biasa dilakukan. "Kami rutin melakukan terbang profisiensi, untuk meningkatkan kemampuan dan meningkatkan kepercayaan diri sehingga dilakukan dengan terbang solo," jelasnya.