Beda Intelijen Dulu dan Sekarang
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyebut intelijen lemah dalam konflik terbuka antara dua kelompok Islam berbeda mahzab,
Penulis:
Hasanudin Aco
Editor:
Johnson Simanjuntak
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyebut intelijen lemah dalam konflik terbuka antara dua kelompok Islam berbeda mahzab, Sunni dan Syiah, di Sampang Madura Jawa Timur.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Tubagus Hasanuddin, menegaskan fungsi intelijen sekarang dengan zaman orde baru berbeda.
Di orde baru, menurut Hasanuddin, intel adalah eksekutor yang bisa melakukan kegiatan operasional apapun. Namun kini fungsi intel terbatas dalam mencari, mengumpulkan, menganalisa dan menyimpulkan informasi.
"Kesimpulannya diberikan kepada para eksekutor seperti kepala daerah baik Gubernur, Bupati, Walikota atau Kapolres , Dandim untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan yang tepat," kata Hasanuddin kepada pers, Selasa (28/8/2012.
Politisi PDIP ini berpendapat kasus Sampang terjadi disebabkan tiga faktor. Pertama, ada kemungkinan intelijen sudah bekerja dengan profesional dan menyampaikan hasilnya tidak direspon atau ditindaklanjuti eksekutor.
Kedua, lanjut Hasanuddin, aparat intelijen bekerja tidak optimal karena lemahnya kemampuan dalam mengumpulkan dan menganalisa data.
"Akibatnya eksekutor pun keliru dalam membuat keputusan," katanya .
Ketiga menurut Hasanuddin bisa jadi tidak adanya kordinasi antara aparat intelijen dengan pemerintah sehingga mereka berjalan sendiri-sendiri.
Baca Juga: