Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Robby Mengira Gedung Sekolah Rubuh

Rumah lokasi ledakan berada di atas hamparan lahan seluas kurang-lebih 1.300 meter, sebagain besar masih kosong.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Domu D. Ambarita
Editor: Rachmat Hidayat

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA--Malam Minggu yang mendebarkan. Malam itu, sekitar pukul 21.30 WIB, Robby sedang asyik menyalurkan hobinya, bermain-main dengan ikan Koi yang dipelihara di dalam akuarium, di teras rumahnya.

Sontak, ia dikagetkan dentuman suara besar dari belakang rumahnya di belakang kompleks sekolah, TK-SD-SMP-SMA Tarbiyah Islamiyah yang terletak di Jalan Kembang Raya, Beji, Depok.

"Saya kaget. Duerrr.. Dinding seperti bergetar, goyang seperti kena gempa. Saya kira ada lantai yang rubuh, ternyata tidak," kata Robby, kepala sekolah taman kanak-kanak (TK) Tarbiyah Islamiyah saat berbincang dengan Tribun di depan sekolah itu, Minggu (9/9) sekitar pukul 01.00 WIB.

Robby sudah tidur dini hari itu, namun dibangunkan seorang penjaga sekolah saat dicari. Tribun mendapat penuturan dari warga Mulyadi, tetangganya sesama warga RP 04/RW 13 Beji, Depok, Robby orang pertama di Jalan Kembang Raya, ruas jalan yang posisinya parallel dengan Jalan Nusantara Raya. Kedua ruas jalan berjarang kurang lebih 100 meter.

Posisi ledakan bom berada persis di belakang sekolah, di seberang kali kecil, selebar kira-kira satu meter. Jika ditarik garis lurus, bagian gedung sekolah berlantai tiga, tidak semua sekolah berlantai tiga, posisi dengan rumah lokasi ledakan dengan sekolah berada pada garis yang sama.

Rumah lokasi ledakan berada di atas hamparan lahan seluas kurang-lebih 1.300 meter, sebagain besar masih kosong. Lahan kosong ditumbuhi bambu, kelapa, pisang, pohon mangga, dan semak- semak. Lahan ini dikelilingi tembok setinggi kira-kira 2 meter.

Pada bagian belakang, berbatas kali, ada lobang, kira-kira diameter 30 sentimeter, leluasa kepala dijulurkan menoleh ke arah ledakan, namun tidak cukup untuk tempat meloloskan diri bagi seorang dewasa.

Rekomendasi Untuk Anda

Hingga dua tahun lalu, masih ada pintu pagar belakang, sehingga warga sekitar di Jalan Kembang Raya sering menyeberang lewat pintu itu menuju Jalan Nusantara. Di lahan kosong itu pula, anak-anak sekitar sering bermain bola kaki.

Masih dalam kondisi gugup, Robby coba mencari tahu, sumber ledakan. "Saya langsung berlari, melihat siapa tahu ada tembok yang runtuh. Tapi ternyata tidak ada tembok atau bangunan yang runtuh," kata Robby.

Kekhawatiran Robby sangat beralasan mengenai bangunan runtuh. Di bagian atas gedung sedang ada pengerjaan, renovasi, atau penambahan bangunan. Minggu pagi, pukul 06.15 WIB, Tribun naik ke lantai tiga gedung masih tampak tanda-tanda pertukangan.

Setelah mengecek keberadaan gedung sekolah, dia mulai curiga adayang tidak beres. "Sesaat setelah ledakan, dan sekolah tidak ada apa-apa, saya langsung terpikir tiga hal. Pertama ledakan tabung gas, kedua ledakan ban mobil, ketiga ledakan bom.Ternyata ledakan bom," kata Robby, sembari melihat ke arah belakang sekolah, ada kepusan asap membubung tinggi.

Melihat kepulan asap dan menimbulkan bau petasan dari rumah di belakang sekolahnya, Robby segera mendatangi warga, di samping kiri, arah selatan sekolah. "Saya langsung datangi warga. Saya bilang, ayo berjaga. Saya antisipasi kalau-kalau ada orang lari ke arah belakang. kalau lari ke sini, biar kita tangkap," kata Robby.

Mulyadi, warga yang tinggal persis berbatas dengan kali, dan rumahnya paling dekat dengan lokasi ledakan dai sisi belakang, mengutarakan hal serupa. "Tadinya warga sini takut, dikira gedung sekolah rubuh. Pak Slamet, ngontrak di belakang sampai berlari ke luar rumah, takut tertimpa," katanya.

"Iya. Istri saya juga takut, langsung berlari, dikirain tembok sekolah rubuh," kata Yanto, menimpali. Rumah Yanto sederet dengan hunian Mulyadi, di belakang sekolah.

"Ledakan terdengar kuat sekali. Saat itu kami sedang karaokean, karena ada karaoke keliling melintas. Saya sangsung saya panjat tembok belakang, saya ambil kayu, takut ada yang kabur lewat belakang," kata Mulyadi yang mengaku sudah 17 tahun menghuni rumahnya, berjarak kurang lebih 50 meter di belakang lokasi ledakan, arah timur.

Roy, warga Jalan Kembang Raya mengaku kenal dengan pemilik lahan kosong tersebut. Pemiliknya Haji Lukman Faris, warga Sawah Besar. Dia warga keturunan yang berasal dari Timur Tengah. Semula, lahan itu milik Haji Hendra, warga sekitar Beji. "Saya pernah masuk ke sana. Karena setiap tahun sekali, tanah itu saya pakai penitipan kambing. Setiap Lebaran Haji, saya jualan hewan kurban, jadi kambing saya titip di sana," kata Roy.

Ibu Febry, warga yang tinggal di seberang sekolah mengatakan, setahun lalu, seorang laki-laki berbadan besar, berjenggot tebal, mirip warga asal Timur Tengah, mampir ke rumahnya.

"Dia tanya, apakah rumah saya mau dijual. Kalau dijual, dia mau beli. Bukan hanya rumah saya, tetapi semua rumah di sini, katanya agar tanahnya disatukan dengan tanah di belakang itu," ujarnya.

Andai niat tersebut terwujut, lahan ribuan meter itu akan diapit dua ruang jalan, Jalan Nusantara Raya dan Jalan Kembang Raya. Gerbang, masuk dan pintu keluar pun sangat mungkin di dua jalan itu. "Tapi saya tidak jual," kata Febry.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas