Slamet Rahardjo: Kreativitas Bangsa Indonesia Memalukan
Aktor Slamet Rahardjo merasa miris terhadap perkembangan seni di Indonesia
Penulis:
Glery Lazuardi
Editor:
Gusti Sawabi
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Glery Lazuardi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Aktor Slamet Rahardjo merasa miris terhadap perkembangan seni di Indonesia. Dia menilai sikap masyarakat konsumtif membuat setiap karya seni yang masuk ke tanah air ditiru tanpa ada upaya menciptakan ulang.
Berbanding terbalik dibandingkan zaman dahulu. Dulu, kesenian yang masuk ke Nusantara, seperti wayang dan batik, diperbaharui dengan cara memasukkan unsur-unsur budaya di Indonesia sehingga membuat suatu bentuk yang baru.
"Kreatif merupakan pembawaan dasar orang Indonesia. Dulu bangsa ini kreatif. Masuk (karya seni,-red) ke Indonesia di adaptasi dan kreasi ulang sehingga lebih bagus. Ini seperti wayang dan batik. Artinya, bangsa ini tidak hanya mengonsumsi tetapi menciptakan ulang," tutur salah satu Dosen IKJ tersebut ditemui di Gedung Arsip Nasional, Jakarta, Rabu (10/6/2015) malam.
Seiring perkembangan zaman, kakak kandung Eros Djarot itu, melihat warga Indonesia tidak lagi mampu membuat karya seni. Dia menilai karya seni yang ada sekarang merupakan hasil tiruan dari negara lain tanpa ada upaya menciptakan ulang.
Sebagai upaya meningkatkan kreativitas terutama di bidang seni, pemerintah Indonesia, membentuk Badan Pengembangan Ekonomi Kreatif (BPEK). Pembentukan ini dinilai sebagai komitmen pemerintah untuk menangani pengembangan ekonomi kreatif.
Namun, pria berusia 66 tahun itu, menilai BPEK merupakan sikap kefrustasian pemerintah karena tidak tahu apa yang dilakukan untuk meningkatkan kreativitas. Padahal salah satu cara yang dapat dilakukan, yaitu menghilangkan sifat konsumtif dari masyarakat Indonesia.
"Kreativitas kita memalukan karena banyak tiruan. Meniru seharusnya di daur ulang. Sekarang, bagaimana jiwa konsumtif dihilangkan. Maka lahir lagi, karya seni seperti Payung Ciamis," kata dia.
Daripada membentuk BPEK yang dinilai lebih mementingkan pasar dan mencari keuntungan semata, kata Slamet Rahardjo, lebih baik ada industri kreatif, di mana industri tersebut melindungi pembuat, pemodal, dan pasar.
Baca tanpa iklan