Kronologi Polemik Dudung dan Rizieq: Penertiban Atribut hingga Sebutan Jenderal Baliho
Polemik Dudung dan Rizieq memanas lagi usai isu “kabur ke Yaman”. Tuduhan Jenderal Baliho dibantah, publik soroti konteks lama.
Editor:
Glery Lazuardi
Ringkasan Berita:
- Polemik antara Habib Rizieq Shihab dan Dudung Abdurachman kembali mencuat usai tudingan “Jenderal Baliho” terkait pernyataan Prabowo Subianto.
- Dudung membantah tuduhan itu dan mengajak menjaga keteduhan.
- Isu ini mengingatkan kembali polemik penertiban baliho FPI hingga pelarangan resmi oleh pemerintah
TRIBUNNEWS.COM - Isu yang menyeret nama Habib Rizieq Shihab dan Dudung Abdurachman kembali mencuat setelah munculnya tudingan terkait narasi “kabur ke Yaman” yang ramai diperbincangkan di ruang publik.
Dalam sejumlah pernyataannya, Rizieq menyinggung sosok yang disebut sebagai “Jenderal Baliho” yang diduga menjadi pembisik di balik pernyataan Prabowo Subianto.
Istilah tersebut berakar dari polemik penertiban baliho tokoh agama dan politik beberapa tahun lalu.
Saat itu, TNI AD di bawah kepemimpinan Dudung turut membantu aparat menertibkan atribut yang dinilai melanggar aturan, yang kemudian memicu pro dan kontra serta melahirkan sindiran bernuansa politis.
Menanggapi tudingan tersebut, Dudung membantah tegas keterlibatannya dalam memengaruhi pernyataan Presiden.
“Tapi artinya bahwa menurut saya bahwa Pak Rizieq, ya, sudah tualah, sudah sama-sama tua. Ya marilah kita bangun bangsa ini dengan keteduhan, dengan tidak memprovokasi,” ujar Dudung di Kantor KSP, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).
Ia juga menegaskan tidak memiliki persoalan pribadi dengan Rizieq dan mengajak semua pihak menjaga etika komunikasi di ruang publik.
“Kalau dikatakan sebagai ulama, ulama itu yang selalu meneduhkan, ya. Berpikir jernih, matanya tidak pernah merendahkan orang lain, mulutnya tidak menjelekkan orang lain, hatinya juga dia tidak berprasangka buruk kepada orang lain, dan tangannya juga tidak dikotori dengan hal-hal yang tidak baik,” tuturnya.
Dudung turut mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah situasi nasional yang dinilai tidak mudah.
“Makanya jaga mata, jaga hati, dan jaga mulut. Ya inilah maksud saya, kita sama-sama anak bangsa yang situasi ini juga tidak baik masalah ekonomi, masalah politik, masalah hukum,” tambahnya.
Polemik ini tak lepas dari pernyataan Presiden Prabowo yang sempat menyinggung pihak yang kerap mengkritik pemerintah dengan menyarankan “kabur ke Yaman”.
Ucapan tersebut memicu beragam tafsir, mulai dari dianggap sebagai retorika politik hingga dinilai berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
Baca juga: Soal Pidato Prabowo Singgung Kabur ke Yaman, KSP Dudung Abdurachman: Itu Bukan dari Saya
Jejak Polemik Penertiban Baliho
Sorotan terhadap Dudung juga mengingatkan kembali pada pernyataannya saat menjabat Pangdam Jaya pada November 2020.
Kala itu, ia menegaskan penurunan baliho milik Front Pembela Islam merupakan perintah langsung darinya.
"Ada berbaju loreng menurunkan baliho Habib Rizieq, itu perintah saya," kata Dudung usai apel pasukan di Monas, Jakarta Pusat, Jumat (20/11/2020).
Baca tanpa iklan