Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Ledakan Bom di Sarinah

Bela Negara Demi Masa Depan Bangsa dan Negara

“Kita ini tidak memiliki hak untuk mengubah apapun dari apa yang telah diwariskan para pendiri negara."

Bela Negara Demi Masa Depan Bangsa dan Negara
Dokumentasi AM Putut Prabantoro
Delegasi dari Indonesia AM Putut Prabantoro, Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) berselfie bersama Paus Fransiskus dalam audiensi di Roma pada Rabu (28/10/2015) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hikmah dari teror di Jalan MH Thamrin adalah negara Indonesia harus dicintai dan dihormati oleh siapapun yang tinggal di wilayah Indonesia tanpa terkecuali dan memandang kebangsaan, kewarganegaraan, agama ataupun rasnya.

Oleh karena itu, pendidikan bela negara sangat penting bagi generasi muda dan harus didukung oleh rakyat Indonesia. Pendidikan ini harus berujung pada cinta tanah air dan negara Indonesia yang berlandaskan Pancasila tanpa ada pengecualian.

Demikian ditegaskan oleh Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa), AM Putut Prabantoro ketika ditanya soal peristiwa teror di Jalan MH Thamrin pada Sabtu (16/1/2016).

Jika ada yang tidak dapat mengikuti pendidikan bela negara karena tidak memenuhi persyaratan, misalnya alasan fisik, hendaknya mereka mengikuti pendidikan bela bangsa (sosial)– yakni kewajiban melakukan kerja sosial di masyarakat.

Pancasila itu, diurai lebih lanjut oleh Putut Prabantoro, dihormati serta dikagumi oleh banyak bangsa di dunia karena spirit, semangat dan jiwa yang ada di dalamnya. Pancasila tidak hanya sebagai dasar negara tetapi terlebih sebagai falsafah hidup dan cara berbudaya bangsa Indonesia yang menerima segala bentuk perbedaan, keanekaragaman dan menjunjunga hak asasi manusia.

Kelima sila yang ada di dalam Pancasila itu merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat berdiri sendiri-sendiri dan pantang untuk dilihat secara terpisah-pisah. Pemerkosaan atas salah satu sila, pada saat yang sama seluruh sila dalam Pancasila terperkosa juga.

“Kita ini tidak memiliki hak untuk mengubah apapun dari apa yang telah diwariskan para pendiri negara. Kita ini hanya mempunyai kewajiban untuk memelihara, menjaga dan merawat apa yang telah dibangun para pendiri bangsa. Oleh karena itu, mencintai dan menjunjung tinggi dengan rasa hormat negara Indonesia merupakan syarat mutlak bagi mereka yang ingin tinggal di Indonesia. Dengan demikian, pendidikan bela negara ataupun pendidikan bela sosial harus bertujuan akhir pada cinta akan negara dan bangsa Indonesia,” ujar Putut Prabantoro.

Menurut pemandangan Putut Prabantoro yang juga konsultan komunikasi politik itu, jika rakyat Indonesia tidak menjaga dasar negara Indonesia untuk tetap berdiri kuat dan kokoh, pada saat itu Indonesia sebagai negara kesatuan dan sila persatuan Indonesianya terancam.

Sejarah panjang nusantara telah menunjukkan bangsa Indonesia dengan mudah diadu domba dan dimasuki oleh pengaruh, paham, bangsa dan negara asing. Oleh karena itu, Pancasila harus selalu menjadi falsafah hidup bangsa dengan mengamalkan sila-silanya.

“Bangsa Indonesia terlampau permisif terhadap masuknya nilai-nilai baru yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam Pancasila. Sehingga posisi pendidikan bela negara ataupun bela bangsa diharapkan dapat menjadi sarana strategis menanamkan cinta tanah air, negara dan bangsa Indonesia secara riil. Pendidikan bela negara ataupun bela sosial harus dapat memperbaiki kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara antar umat beragama, suku, kelompok dan juga ras di Indonesia,” jelasnya lebih lanjut.

Namun demikian, Putut mengurai lebih lanjut, bela negara ataupun bela sosial hanya dapat dilaksanakan jika aparat penegak hukum ataupun keamanan tidak melakukan pembiaran atas pemerkosaan terhadap nilai-nilai sila Pancasila. Diskriminasi yang dilakukan oleh penegak hukum ataupun penegak keamanan dalam menangani kasus kekerasan, ketidakadilan dan antiperikemanusiaan akan mengakibatkan gagalnya pendidikan bela negara serta bela bangsa (sosial).

Editor: Y Gustaman
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas