BNN Tangkap Bandar Narkoba Jaringan Malaysia
Pada penangkapan Senin lalu, BNN Provinsi Sumatera Utara berhasil meringkus empat terduga pengedar narkoba jenis sabu seberat 25 kg dicampur beras.
Editor:
Choirul Arifin
Ia mengungkapkan, tidak tertutup kemungkinan, jaringan lima pengedar atau bandar yang ditangkap ada kaitan dengan jaringan Aceh. Bahkan, berdasar data di BNN, kelimanya bukan pemain baru.
"Pengungkapan kasus masih dalam proses lidik apakah ada kaitannya dengan jaringan Aceh atau jaringan lainnya. Masih dalam pengembangan. Mereka bilang cuma sekali tapi data kami sudah dua kali sesuai penjelasan Pak Kepala BNN kemarin," katanya.
Usai melakukan penangkapan, lanjutnya, BNNP Riau sudah menyelidiki pelabuhan tikus yang diduga sebagai pintu masuk narkoba itu ke Medan. Namun, ia menolak sebutkan nama pelabuhan tikus tersebut.
"Sudah dikembangkan BNNP Riau dengan melakukan penyelidikan di pelabuhan tikus tersebut. Ini sedang pengembangan di sana, lokasinya tidak dapat disebutkan nantinya penyelidikan rusak," ujarnya.
Menurutnya, BNNP Sumut tidak hanya melakukan pemberantasan narkoba untuk menangkap bandar. Tapi, juga mencegah orang sehat menggunakan narkoba dan perang terhadap narkoba.
"Berantas yang utama tetap dilaksanakan untuk tangkap bandar. Tapi juga harus dicegah, kami harus cegah orang-orang yang masih sehat. Kami memberikan pemahaman agar masyarakat jauhi narkoba," katanya.
Adapun program pencehahan, katanya, bernama Bang Wawan. Program itu pembangunan wawasan antinarkoba untuk masyarakat luas. Ke depan BNNP akan menjalin hubungan baik dengan berbagai lembaga.
"Kami menjalin hubungan baik bersama pemerintah dan BUMN supaya memberikan imbauan setop narkoba. Harus ada pemahaman untuk masyarakat," ujarnya.
Baginya, satu di antara dari program antinarkoba yang dikampanyekan seperti memutar video bahaya menggunakan narkoba di perkantoran dan fasilitas umum. Bahkan, BNNP sudah memasang stiker antinarkoba.
"Stiker sudah kami pasang di berbagai kawasan, misalnya di bandara. Kalau bisa ke depan setiap lembaga seperti perbankan ada imbauan video agar masyarakat menjauhi narkoba. Kemudian ada tes urine," ungkapnya.
Sehari sebelumnya, Kepala BNN mengatakan, bukan hanya Kota Medan yang darurat narkoba, tapi seluruh Indonesia. Namun, rangking pertama peredaran narkoba di Indonesia masih di Jakarta, kemudian Surabaya, disusul Medan.
Menurut Buwas, jika suplai narkoba di Medan masih tinggi, maka pengguna narkoba tidak bisa menurun. Karena itu, BNN akan kerja sama dengan Polri dan TNI untuk mengurangi peredaran narkoba di ibu kota Provinsi Sumatera Utara tersebut.
"Bagaimanapun BNN berupaya untuk mengurangi narkoba ini. Malam ini petugas masih mengembangan jaringan narkoba ini. Seluruh pengedar disangkakan undang-undang narkotika pasal 112, 114, 123, 124. Maksimal hukuman mati," katanya.