Operasi Tinombala Sebentar Lagi Selesai
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyebutkan kelompok Santoso di Poso, Sulawesi Tengah, sudah terdesak.
Editor:
Dewi Agustina
Setelah itu, anggota kelompok Santoso yang tewas langsung dibawa ke RS Bhayangkara Palu dan dalam proses identifikasi.
Agus mengatakan, satgas di lapangan terpaksa melumpuhkan anggota kelompok Santoso tersebut sebagai bentuk perlindungan diri.
"Apabila pada situasi tersebut tidak memungkinkan, kita dapat melakukan tindakan tegas yang memang dalam SOP kita lakukan. Upaya penegakan hukum melumpuhkan, apabila membahayakan, kita bisa lakukan tindakan tegas walaupun tetap terukur," kata Agus.
Berbahaya
Banyak pihak menyayangkan polisi menembak mati anggota Santoso tersebut saat kepergok melintas di Desa Patiwunga, Kecamatan Poso Pesisir Selatan.
Sebab, apabila ditembak mati, maka kepolisian tidak bisa memeriksa dengan menanyakan soal keberadaan Santoso yang hingga kini masih belum tertangkap.
Brigjen Pol Agus Rianto menjelaskan tugas Polri yakni melakukan penegakan hukum dan menuntaskan demi mengungkap seluruh jaringan dalam proses penegakan hukum.
Namun apabila pada situasi tertentu tidak memungkinkan dilakukan penangkapan maka bisa dilakukan tindakan tegas yang memang sesuai dengan SOP yang ada.
"Upaya melumpuhkan dilakukan apabila membahayakan. Kalau diperingati tidak diindahkan kami lakukan tindakan tegas tapi terukur. Seandainya tembakan kami mengakibatkan orang meninggal tentu tahapannya sudah dilakukan," ujarnya.
Jenderal bintang satu ini tidak memungkiri memang semua anggota Polri terlatih namun yang dihadapi mereka, khususnya Satgas Tinombala di Poso ialah teroris. Dimana mereka memang sudah siap mati demi berjihad.
"Kami akan berupaya semaksimal mungkin menangkap mereka dalam keadaan hidup, sehingga perkara yang kami sangkakan atau yang pernah mereka lakukan bisa disidangkan. Tapi kalau sudah membahayakan petugas, bagaimana? Ya ditindak tegas," ujarnya. (kos/kps/Tribunnews)