Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
Tribun

Yang Ingin Mengganti Ideologi Pancasila Bukan WNI kata Prof. Dr. Murodi, M.Ag

Ideologi Pancasila adalah ideologi terbaik bagi bangsa Indonesia, bahkan terbaik di muka bumi ini

Editor: Toni Bramantoro
zoom-in Yang Ingin Mengganti Ideologi Pancasila Bukan WNI kata Prof. Dr. Murodi, M.Ag
www.uinjkt.ac.id
Prof. Dr. Murodi, M.Ag 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bangsa Indonesia wajib menerapkan dan terus mendalami falsafah Pancasila demi untuk mewujudkan Indonesia yang adil, tenteram, damai, dan kuat.

Ideologi Pancasila adalah ideologi terbaik bagi bangsa Indonesia, bahkan terbaik di muka bumi ini karena mencakup seluruh sendi kehidupan manusia mulai dari ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan.

“Jadi kalau ada orang yang ingin mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi lain, maka mereka bukan WNI dan silakan keluar dari NKRI,” kata Wakil Rektor Bidang Kerjasama UIN Syarif Hidayatullah, Prof. Dr. Murodi, M.Ag. Kamis (12/5/2016).

Murodi menjelaskan, ideologi Pancasila itu juga mencakup agama islam sebagai agama yang komprehensif dan mengandung ajaran yang sangat moderat serta rahmatan lil alamin.

Artinya, islam itu tidak hanya membawa keberkahan kepada alam dan manusia saja, tapi seluruh makhluk ciptaan Tuhan seperti binatang, tumbuhan, dan lain-lain, juga membawa kedamaian, kesejahteraan, keadilan.

“Semua sudah tercakup. Jadi apalagi yang mau diganti? Semua sudah ada alam Pancasila yaitu ketuhanan, kemanusiaan, keadilan. Makanya saya mendorong agar generasi muda kita kembali belajar falsafah Pancasila demi membangun karakter manusia Indonesia yang baik dan bermartabat,” urai Murodi.

Terkait propaganda paham radikalisme dan terorisme, menurut Murodi, radikalisme itu sudah ada sejak manusia ada.

Berita Rekomendasi

Sekarang tugas bangsa Indonesia adalah menangkal gerakan radikalisme dan terorisme. Dalam pandangannya, radikalisme dan terorisme itu terjadi akibat banyak faktor, tetapi dari banyak faktor itu, paling banyak persoalan ideologi agama. 

Dari situlah para penganut paham radikalisme dan terorisme itu tidak saja mengkafirkan dan menganggap orang yang tidak seagama sebagai musuh, bahkan yang seagama pun seringkali tetap dianggap musuh dan harus dimusnahkan.

Menurut Murodi, upaya-upaya mengkafirkan itu sudah muncul sejak abad 7-8 masehi. Saat itu, terjadi konflik internal dan perebutan kekuasan di banyak negara yang menjadi akar munculnya radikalisme.

Selain itu, tujuan mereka adalah menggulingkan kekuasaan politik, makanya gerakan radikal itu muncul di negara-negara islam, termasuk di Indonesia.

“Mereka ingin mengnganti ideologi negara dengan ideologi islam. Itulah salahnya, mestinya yang harus diajarkan ke masyarakat adalah bahwa negara ini didirikan oleh para pahlawan yang berideologi Pancasila yang digali dari sumber-sumber agama itu sendiri,” jelas Murodi.

Selain itu, Murodi menggarisbawahi tujuan kelompok radikal yang ingin mengganti NKRI menjadi khilafah. Ia justru mempertanyakan khilafah yang mana?

Menurutnya, khilafah itu sudah habis dan sudah tidak ada. Khilafah itu sudah hancur pada abad ke-8 masehi, saat munculnya dinasti Bani Umayah. Tapi saat itu bukan khilafah, tapi kerajaan (mulk).

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
© 2025 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas