Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Dering Ponsel di Tengah Malam Itu Diduga yang Tunda Eksekusi 10 Terpidana Mati

Sekitar pukul 00.00, handphone milik seorang pejabat kejaksaan berbunyi dan sempat menyita perhatian sejumlah orang yang berada di lokasi kejadian.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Dering Ponsel di Tengah Malam Itu Diduga yang Tunda Eksekusi 10 Terpidana Mati
TRIBUN/A PRIANGGORO
Pemeriksaan mobil oleh aparat yang masuk-keluar di Dermaga Wijaya Pura, Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jumat (29/07/2016). Empat orang terpidana mati dari total 14 orang telah menjalani eksekusi hari ini, termasuk diantaranya Freddy Budiman. TRIBUNNEWS/A PRIANGGORO 

TRIBUNNEWS.COM, CILACAP - Detik-detik terakhir jelang eksekusi jilid III terpidana mati di Pulau Nusakambangan menyisakan banyak cerita.

Kamis (28/07/2016) sekitar pukul 23.15, 14 terpidana mati dibawa ke luar dari ruang isolasi menuju ke Pos Polisi Nusakambangan.

Satu terpidana mati naik di satu mobil. Saat berjalan dari ruang isolasi, terpidana mati terlihat dipapah aparat yang membantu mereka untuk berjalan.

"Membawa terpidananya agak digotong karena mereka dalam kondisi terborgol pada bagian kaki, leher, dan pinggangnya. Tangannya diborgol ke belakang, tidak ke depan. Satu terpidana mati dijaga oleh sekitar 30 aparat, jadi kalau dilihat dari terpidananya tertutupi oleh puluhan aparat," terangnya.

Saat itu, sumber Tribunnews mengaku berada di sekitar area lapangan yang menjadi tempat eksekusi mati.

Sekitar pukul 00.00, handphone milik seorang pejabat kejaksaan berbunyi dan sempat menyita perhatian sejumlah orang yang berada di lokasi kejadian.

"Tentu saja kaget karena orang-orang yang hadir di sekitar lokasi penembakan tidak ada yang boleh membawa handphone. Saya mengira telepon itulah yang memberi kabar bahwa pelaksanaan eksekusi hanya pada empat terpidana mati saja, tidak jadi empatbelas terpidana," ungkapnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Sebelum regu tembak mencabut nyawa empat terpidana mati, listrik di wilayah sempat padam dua kali.

"Memang prosedur saat eksekusi mati itu listriknya harus dipadamkan. Saat listrik padam, regu tembak mengeksekusi para terpidana mati secara bersamaan," terangnya.

Semementara itu, Kepala Divisi Lapas (Kadivpas) Kemenkum Jawa Tengah, Molyanto, Sabtu (30/07/2016) siang, menyatakan bila 10 terpidana mati yang semula berada di ruang isolasi kini sudah dikembalikan ke lapas-lapas tempat mereka sebelumnya.

"Sudah dikembalikan," kata Molyanto singkat seraya menambahkan dirinya sedang ada keperluan. (tribunnews/adi prianggoro)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas