Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Interaksi dengan Korban Bom Bali Membuat Iqbal Husaini Kapok Jadi Teroris

Iqbal Husaini memiliki kemampuan merakit senjata setelah mendapat pelatihan militer di Filipina bersama kelompok Abu Sayyaf.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Interaksi dengan Korban Bom Bali Membuat Iqbal Husaini Kapok Jadi Teroris
KOMPAS IMAGES/KOMPAS TV
Iqbal Husaini 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyak jalan bagi para pelaku tindak terorisme di Tanah Air bertobat tidak mau lagi mengulangi tindak kekerasannya yang merugikan nyawa orang lain.

Seperti terjadi pada diri Iqbal Husaini, mantan terpidana kasus teroris yang pernah dua kali hidup di jeruji penjara karena kasus terorisme.

Tahun 2006, Iqbal Husaini ditangkap karena menyimpan dan menguasai senjata api, amunisi serta bahan peledak untuk aksi terorisme.

Iqbal Husaini memiliki kemampuan merakit senjata setelah mendapat pelatihan militer di Filipina bersama kelompok Abu Sayyaf.

Setelah bebas, pada 2013, ia kembali tertangkap dalam kasus serupa. Total hukuman yang ia terima 10 tahun.

Pria yang dulu dikenal sebagai Ramli alias Rambo itu sebenarnya sudah mulai menyadari bahwa perbuatannya tidak dibenarkan pada 2011.

Saat itu, ia sudah keluar dari penjara setelah dihukum empat tahun penjara. Iqbal sempat berinteraksi dengan sejumlah korban bom Bali I.

Rekomendasi Untuk Anda

"Interaksi dengan korban membuat saya menyadari kesalahan utama bahwa yang jadi musuh utama bukan masyarakat sipil," ujar Iqbal saat dihadirkan di acara "Rosi" bertajuk #MelawanISIS di KompasTV, Kamis (8/6/2017) malam.

"Tapi ketika ditempatkan di tempat target, banyak masyarakat sipil, di luar dugaan malah jadi imbasnya," lanjut dia.

Iqbal melihat bagaimana korban ledakan menjadi cacat permanen, kehilangan keluarga dan orang terdekat, bahkan ada polisi yang kondisi tubuhnya tak sanggup ia ceritakan.

Padahal, secara tidak langsung Iqbal terkait dengan aksi tersebut.

"Saya bersama Dulmatin beli spare part elektronik. Saya pikir buat bengkelnya, ternyata buat dijadikan device peledak," kata Iqbal.

Namun, pada 2013, Iqbal kembali ditangkap karena masih menyuplai senjata rakitannya untuk kelompok teroris.

Meski sudah ada penyesalan sejak berinteraksi dengan korban Bom Bali, namun Iqbal mengaku tak bisa lepas begitu saja dari kelompokteroris.

Prosesnya tidak bisa seperti bekerja di kantoran yang tinggal mengajukan surat resign. Setelah menjalani sisa hukuman, Iqbal meneguhkan diri untuk berhenti.

Rasa simpatinya kepada korban sejumlah aksi bom membuatnya tersadar bahwa apa yang dia yakini selama ini salah. 

"Itu titik balik benar-benar saya. Tujuan utama saya tegakkan Islam di bumi kenapa yang saya lakukan justru kerugian besar bagi pribadi orang tersebut," kata Iqbal.

Kembali ke masyarakat

Iqbal menyadari, sebagai terpidana teroris, ada label berbahaya yang melekat pada dirinya. Ia yakin, masyarakat akan menghindarinya karena stigma mantanteroris.

Awalnya, begitu keluar dari penjara, Iqbal sempat menutup diri dari lingkungan. Ia khawatir dengan pandangan orang yang akan mencap jelek dirinya.

Namun, setelah coba membuka diri dan berinteraksi dengan tetangga, mereka mau menerima Iqbal.

"Mereka tahu dengan sendirinya. Banyak nyari nama saya lewat Google kan, oh ini," kata Iqbal.

Iqbal mengatakan, sebaiknya para mantan teroris yang bertobat tidak menutup diri. Mereka harus bersosialisasi dengan keluarga, tetangga, sehingga masyarakat dan keluarga percaya bahwa mereka telah bertobat.

"Teman-teman kan biasanya tidak mau open mind, tidak mau buka diri. Janganlah muncul stigma teroris hanya menghancurkan, tapi (mantan)teroris juga membangun," kata Iqbal. 

 
Penulis: Ambaranie Nadia Kemala Movanita

Artikel ini tayang di Kompas.com dengan judul: Mantan Teroris Tobat Setelah Berinteraksi dengan Korban Bom Bali

Sumber: Kompas.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas