Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

PKB: Lima Hari Sekolah Mendikbud Lebih Buruk dari Penjajahan Belanda

Bahkan ia menyebut Mebdikbud membuat kebijakan yang dipaksakan dan berpotensi menghancurkan sendi pendidikan

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Rizal Bomantama
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in PKB: Lima Hari Sekolah Mendikbud Lebih Buruk dari Penjajahan Belanda
Rizal Bomantama/Tribunnews.com
Ketum DPP PKB Muhaimin Iskandar saat menjadi pembicara dalam diskusi kebangsaan "Peran Strategis Madrasah Diniyah dalam Membangun Karakter Bangsa" di Hotel Acacia, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Senin (7/8/2017). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB), Muhaimin Iskandar menjadi pembicara dalam diskusi kebangsaan bertema "Peran Strategis Madrasah Diniyah dalam Membangun Karakter Bangsa" yang digelar di Hotel Acacia, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Senin (7/8/2017).

Pria yang akrab disapa Cak Imin menegaskan sikap DPP PKB menolak kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengenai kebijakan sekolah lima hari atau yang mereka sebut full day school.

Bahkan ia menyebut Mebdikbud membuat kebijakan yang dipaksakan dan berpotensi menghancurkan sendi pendidikan kerakyatan yang dibentuk sejak lama oleh Madrasah Diniyah.

"Full Day School ini dipaksakan, dapat mengganggu apa yang sudah dibangun oleh ulama. Ia menggeneralisir semua warga negara dan berpotensi merusak tradisi yang telah puluhan tahun dibangun."

"Bahkan kebijakan Mendikbud ini tidak lebih baik dari apa yang dilakukan Belanda. Belanda lewat Snouck Hurgronje berkompromi dengan para ulama untuk menentukan kebijakan di nusantara pada saat penjajahan," katanya.

Cak Imin sendiri mengaku sudah menyatakan penolakan pihak PKB dan warga nahdiyin mengenai kebijakan lima hari sekolah itu kepada Presiden Joko Widodo.

"Beliau menyanggupi namun sepertinya Mendikbud ini masih bersikukuh dengan kebijakan tersebut. Saya yakin pemerintah punya niat baik namun jika dilakukan dengan strategi salah akan merusak apa yang telah dibangun ulama di Indonesia," ujarnya.

Rekomendasi Untuk Anda
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas