Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Putra Kusbini Luruskan Sejarah tentang Lagu ''Bagimu Neg'RI''

“Harusnya itu “Bagimu Neg’RI” bukan “Negeri” itu harus diluruskan. Neg’RI itu berarti Negara Republik Indonesia. Sesuai dengan yang ditulis Bapak."

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Amriyono Prakoso
zoom-in Putra Kusbini Luruskan Sejarah tentang Lagu ''Bagimu Neg'RI''
youtube
Ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sapta Ksvara Kusbini seorang konduktor dua di Gita Bahana Nusantara mengakatan selalu teringat ayahnya ketika mengangkat tongkat konduktor di depan paduan suara dan orkestra.

Ditemui saat latihan terakhir di depan Istana Merdeka, Rabu (16/8) dia yang masih mengenakan setelan jas hitam itu, matanya memerah saat menceritakan ayahnya.

Ayah Sapta, tidak lain adalah Kusbini pencipta lagu nasional Bagimu Negri yang menyuruhnya secara personal untuk meneruskan jejak karirnya di dunia musik Indonesia dari 10 anak lainnya.

“Saya ingat betul ketika Bapak bilang ‘Le, kowe yang neruske aku di dunia musik’. Itu saya ingat, dia sembari nepuk bahu saya. Jadi kalau saya lagi angkat tongkat, saya merasa ada bapak di situ yang lihat saya menjadi konduktor,” suaranya bergetar.

Apalagi, kata dia, ketika menyanyikan lagu Bagimu Negri yang setiap acara nasional pasti dinyanyikan. Bukan hal yang jarang Sapta menteskan sedikit airmatanya. Begitu juga dengan riuh tepuk tangan dari penonton yang diterima olehnya usai memipin lagu.

Baginya, musik bukan hanya kebutuhan. Lebih dari itu, musik yang menghidupi dia dan keluarga. Dari 11 anak Kusbini, hanya dua orang yang tidak bermusik, sementara lainnya menjadi pengajar di sekolah musik dan sekolah reguler serta menjadi anak band.

“Dua saja yang tidak bermusik, yang pertama dan keempat. Sisanya jadi pengajar dan punya band sendiri. Musik bagi kami sudah menjadi hidup sekeluarga. Tidak bisa dilepaskan,” kata dia.

Rekomendasi Untuk Anda

 Bagimu Neg’ RI Bukan Negeri

Saat bertemu dengan Tribun, Sapta juga menyampaikan adanya kesalahan judul lagu nasional Bagimu Negeri yang selama ini dikenal.

Judul yang asli adalah Bagimu Neg’ RI. Meski lafal yang diucapkan ‘Negri’ hal itu masih ditolerir. Tetapi untuk judul, disarankan olehnya bukan ‘Negeri’.

 “Harusnya itu “Bagimu Neg’RI” bukan “Negeri” itu harus diluruskan. Neg’RI itu berarti Negara Republik Indonesia. Sesuai dengan yang ditulis Bapak,” ucapnya.

Dia menjelaskan dokumen asli lagu Bagimu Negri, masih berada di kediamannya di Yogyakarta. Begitu juga dengan hasil coretan asli Kusbini pada tiga lembar kertas yang sudah sobek karena banyaknya coretan tangan.

Setidaknya, ungkap dia, terdapat lima kali revisi dari lagu yang hanya empat baris tersebut, termasuk ketukan, nada dan lirik terakhir yang diminta langsung oleh Presiden Soekarno untuk diubah.

“Lirik terakhir harusnya Bagimu Negri Indonesia Raya. Tapi diubah menjadi Jiwa Raga Kami. Karena saat tahun 1942, nama Indonesia tidak boleh disebut atau mati ditangan Jepang,” tegasnya.

Dia berharap agar masyarakat Indonesia tahu dan mengerti adanya kesalahan itu dan pemerintah dapat meluruskan hal tersebut agar tidak menjadi bias mana yang benar dan mana yang salah.

Dirinya pun siap jika harus mengeluarkan dokumen keluarganya tentang lagu itu.

 “Supaya jelas saja. Meskipun nanti di lafalkannya sama, tetapi judulnya bisa diluruskan, bagaimanapun ini fakta sejarah yang harus benar-benar tertulis yang asli,” kata anak ketujuh Kusbini itu. (rio)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas