Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Ini Klarifikasi Konferensi Waligereja Indonesia Tentang Sekolah Lima Hari

Melalui sebuah siaran pers pihak KWI memberi klarifikasi dalam beberapa poin.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Rizal Bomantama
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Ini Klarifikasi Konferensi Waligereja Indonesia Tentang Sekolah Lima Hari
Tribunnews.com/ Rizal Bomantama
Mendikbud Muhadjir Effendy (bawah kedua dari kiri) dan Uskup Agung Jakarta Mgr Ign Suharyo (bawah tiga dari kiri) beserta 10 pimpinan keuskupan se-Indonesia melakukan dengar pendapat di Kantor Konferensi Waligereja Indonesia, Gondangdia, Jakarta Pusat, Jumat (25/8/2017). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) memberi klarifikasi mengenai pemberitaan pertemuan antara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dan Ketua KWI sekaligus Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo pada Jumat (25/8/2017) lalu yang dimuat Tribunnews.com dalam berita ''Ketua KWI: Kenapa Sekolah Lima Hari Harus Dipermasalahkan?''.

Berita tersebut menyebut Mgr Ign Suharyo memberi pernyataan "mempertanyakan kenapa banyak kritik tajam yang diarahkan kepada kebijakan Kemendikbud" berkaitan dengan kebijakan sekolah lima hari.

Melalui sebuah siaran pers pihak KWI memberi klarifikasi dalam beberapa poin.

Yang pertama memang benar terjadi petermuan antara KWI dengan Mendikbud pada tanggal 25 Agustus 2017 di Kantor KWI, Gondangdia, Jakarta Pusat dan mengapresiasi inisiatif Mendikbud untuk menginisasi pertemuan tersebut.

Kedua KWI menyatakan bahwa pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih satu jam itu membahas mengenai penguatan pendidikan karakter.

Menteri Muhadjir Effendy mengapresiasi sekolah-sekolah Katolik yang mempunyai budaya pendidikan karakter yang kuat.

Ia juga menyatakan ingin menimba inspirasi dari pola pendidikan yang diterapkan sekolah-sekolah Katolik.

Rekomendasi Untuk Anda

"Mendikbud juga menyebut umat Katolik telah memberi kontribusi penting dalam pendidikan nasional melalui berbagai lembaga pendidikan yang berpengalaman dan memiliki reputasi dalam pendidikan karakter," kata KWI.

Ketiga, KWI menegaskan bahwa sekolah-sekolah Katolik memberi prioritas kepada pendidikan karakter dengan nilai-nilai yang sejalan dengan Pancasila.

KWI juga menegaskan tradisi yang teeus dipertahankan adalah tradisi 'live in' untuk membentuk kepekaan sosial dan moral peserta didik.

"Oleh karena itu KWI mengapresiasi visi dan misi Kemendikbud untuk penguatan pendidikan karakter yang sejalan dengan visi dan misi pendidikan Katolik. KWI juga merasa bersyukur karena melalui pertemuan itu bisa mencerahkan visi dan misi penguatan pendidikan karakter oleh Kemendikbud dengan lima nilai utama yakni religius, nasionalis, kemandirian, integritas, dan gotong-royong," ujar KWI.

Dalam poin keempat, KWI menegaskan bahwa Uskup Agung Jakarta Mgr Ign Suharyo tidak menyatakan mendukung kebijakan sekolah lima hari tersebut.

"Memang Mendikbud menyatakan ada kesalahpahaman dalam menilai kebijakan sekolah lima hari. Tapi Uskup Agung Jakarta tidak menanggapinya dengan memberi dukungan sekolah lima hari seperti yang diberitakan Tribunnews.com," ungkap KWI.

Menurut KWI ada beberapa hal yang disampaikan Uskup Agung Jakarta menanggapi kebijakan itu, yang pertama adalah Kemendikbud tidak diwajibkan bagi semua sekolah di Indonesia.

Namun nyatanya banyak sekolah yang sudah menerapkan kebijakan itu.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas