Buya Syafii: Pancasila Modal Bangsa yang Sangat Bernilai
Pekerjaan rumah bangsa Indonesia paling penting yang harus segera diselesaikan saat ini adalah mempersempit kesenjangan
Editor: Rachmat Hidayat
![Buya Syafii: Pancasila Modal Bangsa yang Sangat Bernilai](https://asset-2.tstatic.net/tribunnews/foto/bank/images/buya-syafii-maarif28_20170928_131912.jpg)
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-Pekerjaan rumah bangsa Indonesia paling penting yang harus segera diselesaikan saat ini adalah mempersempit kesenjangan, mengurangi ketimpangan di antara sesama warganya.
Masalah pemerataan ekonomi ini harus jadi prioritas, bukan hanya bagi pemerintah tapi juga swasta. Apalagi pada saat yang sama, negara tak cuma menghadapi berbagai masalah ekonomi, tetapi juga masalah social politik keagamaan seperti radikalisme dan terorisme.
Hal ini mengemuka dalam dialog yang diselenggarakan President Office Sinar Mas bertema Ekonomi Berbasis Kerakyatan: Merekat Perbedaan, Memperkuat Persatuan, Rabu (27/9/2017) kemarin.
Mantan Ketua PP Muhammadiyah Dr H Ahmad Syafii Maarif yang lebih dikenal dengan panggilan Buya Syafii menjadi pembicara utama dalam acara ini. Juga Dr Sudhamek AWS. Sedangkan sebagai penanggap adalah mantan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah dan mantan KSAL Laksamana (Purn) Marsetio.
Mantan Menteri Perindustrian yang kini menjabat sebagai Managing Director Presiden Office Sinar Mas, Saleh Husin, menjadi moderator.
"Bung Karno pernah menyatakan, tidak akan ada kemiskinan di dalam Indonesia merdeka. Setelah 72 tahun, kemiskinan masih menjadi masalah utama bangsa ini,” kata Anggota Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP Pancasila) Syafii Maarif ini.
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, lanjutnya, uang tampak begitu liar, tapi bagi sejumlah sektor swasta seperti Sinar Mas, uang terlihat begitu jinak. "Kemampuan menjinakkan uang inilah yang harus ditularkan kepada masyarakat luas," tambahnya.
Menurutnya, bangsa Indonesia sesungguhnya sudah memiliki modal yang sangat bernilai, yakni Pancasila, karena setiap sila di dalamnya bisa menjawab setiap masalah secara menyeluruh dari berbagai dimensi.
Dalam pemerataan kesejahteraan misalnya, upaya menjawabnya tidak saja dari sisi ekonomi, tapi juga aspek social hingga hati nurani.Begitu pula dengan ancaman intoleransi dan radikalisme, tidak cukup hanya ditangani dengan penegakan hukum semata, tapi mesti melibatkan pula aspek social, ekonomi, pendidikan dan sebagainya.
"Agar tidak muncul paham berani mati karena takut hidup. Itu teologi maut namanya,"tegas mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini.
Managing Director Presiden Office Sinar Mas Saleh Husin menjelaskan, diskusi semacam ini, yang diikuti para eksekutif di lingkungan Sinar Mas, merupakan kegiatan reguler korporat.
"Temanya berbeda-beda, mengikuti situasi dan kondisi aktual bangsa ini. Yang jelas, Sinar Mas memang punya komitmen kuat untuk tumbuh dan berkembang bersama-sama masyarakat Indonesia, termasuk di dalamnya mendorong percepatan pemerataan ekonomi," ujarnya usai diskusi.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.