Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

ICW: Konsep Densus Tipikor Lahir karena Didorong Kepentingan Politisi Senayan

Bagi ICW, Densus Tipikor bukanlah satu-satunya solusi mengatasi lemahnya penindakan kasus korupsi di Indonesia.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in ICW: Konsep Densus Tipikor Lahir karena Didorong Kepentingan Politisi Senayan
Tribunnews.com/Seno Tri Sulistiyono
Kordinator Investigasi ICW, Febri Hendri, mengusulkan agar panitia seleksi tak menerima calon pimpinan KPK beristri dua. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia Corruption Watch (ICW) sependapat dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) terkait pembentukan Densus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) oleh Polri.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai pembentukan Densus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) oleh Polri belum diperlukan sekarang ini.

Menurut Kalla, pemberantasan Korupsi sebaiknya difokuskan di Komisi Pemberantasan korupsi (KPK).

Bagi ICW, Densus Tipikor bukanlah satu-satunya solusi mengatasi lemahnya penindakan kasus korupsi di Indonesia.

Karena menurut ICW, masih banyak pilihan solusi lain yang dapat memperkuat penindakan korupsi oleh Kepolisian.

"Kami sependapat dengan Wapres namun dengan alasan yang berbeda. Bagi kami, Densus Tipikor bukanlah satu-satunya solusi mengatasi lemahnya penindakan kasus korupsi di Indonesia," ujar Koordinator Divisi Investigasi Indonesian Corruption Watch (ICW) Febri Hendri, kepada Tribunnews.com, Rabu (18/10/2017).

Baca: Fahri Hamzah: Wapres Seenaknya Aja Ngomong

Rekomendasi Untuk Anda

Dijelaskan Febri Hendri, konsep Densus Tipikor masih belum jelas dan memicu masalah lain yang lebih kompleks. Salah satunya soal opsi pimpinan kolektif dimana unsur kejaksaan menjadi salah satu pimpinan dalam densus tersebut.

"Ini memicu masalah sistem peradilan sebagaimana yang diatur dalam KUHAP," tegasnya.

Selain itu, konsep Densus Tipikor lahir prematur karena didorong oleh kepentingan politik politisi senayan yang ingin agar Densus segera menggantikan KPK dalam penindakan kasus korupsi.

"Karena prematur, maka konsep Densus ini menjadi tidak jelas," jelasnya.

Wakil Ketua Komisi III DPR Benny K Harman menjelaskan, DPR siap meloloskan anggaran untuk pengembangan unit berupa Densus Tipikor.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian sebelumnya menjelaskan, Korps Bhayangkara butuh uang sebesar Rp 2,6 triliun untuk membentuk Densus Tipikor.

"Jangankan kepolisian, Kejaksaan pun kalau mau. Kewenangannya kan sama," kata Benny kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (17/10/2017).

Politikus Partai Demokrat ini berharap, penyediaan anggaran tidak menuai anggapan negatif di masyarakat.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas