Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pemerintah Tidak Perlu Panik Hadapi Dukungan Papua Merdeka Dari Luar Negeri

Selama hal itu dilakukan, dukungan dari pihak-pihak tersebut juga tidak juga berkurang.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Pemerintah Tidak Perlu Panik Hadapi Dukungan Papua Merdeka Dari Luar Negeri
Nurmulia Rekso Purnomo/Tribunnews.com
Analis Filipina dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Adriana Elisabeth 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) tidak hanya menggelar aksinya dengan melakukan penyerangan di dalam negeri, mereka juga meminta dukungan dari masyarakat internasional.

Menurut analis Papua, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Adriana Elisabeth, hal tersebut tidak perlu ditanggapi dengan panik.

Selama ini pemerintah merespon dukungan dari sejumlah pihak di luar negeri, dengan menutup akses-akses mereka.

Selama hal itu dilakukan, dukungan dari pihak-pihak tersebut juga tidak juga berkurang.

Seharusnya, hal itu diselesaikan dengan menuntaskan permasalahan pokok soal Papua.

"Kita panik, salah kita sendiri, sudah tahu salahnya di sini," ujarnya kepada wartawan di gedung LIPI, Jakarta Selatan, Rabu (8/11/2017).

Baca: Wow, Anggaran Pidato Anies-Sandi Tahun Depan Rp 300 Juta, Katanya Tak Besar

Rekomendasi Untuk Anda

Permasalahan KKB yang mengusung gagasan Papua merdeka, sudah ada sejak puluhan tahun lalu, dan tidak kunjung selesai hingga kini.

Hal itu antara lain karena permasalahan-permasalahan pokok di Papua, belum juga terjawab.

Alhasil kelompok-kelompok tersebut masih mengusung gagasan Papua merdeka.

Di Papua, permasalahannya adalah kesenjangan kesejahteraan.

Pemerintah saat ini menurutnya sudah berupaya untuk menuntaskan persoalan tersebut, dengan melakukan berbagai pembangunan infrastruktur.

Namun masalahnya belum selesai sampai di situ. Cara untuk memberikan bantuan menurutnya juga harus sesuai dengan cara mereka.

"Kita selalu merasa sudah memberikan, itu benar. Lalu mereka tanya, memang kami minta itu kah," ujarnya.

"Mereka merasa sebagai bagian dari orang Indonesia, tidak merasa memiliki martabat yang sama, ada pengakuan, identitas, itu yang mereka minta," katanya.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas