Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Marsekal Hadi Paparkan Terorisme Ancaman Global, Musuh Bersama Harus Diperangi

Hadi juga menyoroti soal kerawanan laut perbatasan sebagai salah satu ancaman keamanan negara.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Marsekal Hadi Paparkan Terorisme Ancaman Global, Musuh Bersama Harus Diperangi
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal Hadi Tjahjanto saat konferensi pers di gedung KPK, Jakarta, terkait penanganan kasus pengadaan helikopter AugustaWestland (AW)-101 yang diliai terlalu mahal, Jumat (26/5/2017). Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengumumkan tiga tersangka dari militer yang merugikan negara sebesar Rp 220 miliar, sedangkan KPK saat ini sedang dalam tahap penyelidikan untuk mengejar pihak sipil yang diduga terlibat. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Calon Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Ruang Rapat Komisi I DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (6/12/2017).

Dalam paparan visinya, Hadi menyampaikan sejumlah potensi ancaman keamanan negara.

"Diameter konflik tidak menjadi simetris, melainkan lebih sering bersifat asimetris, proxy dan hibrida," ujar Hadi.

Setidaknya, ada lima potensi ancaman yang disoroti, yakni dampak tatanan dunia baru, kerentanan terorisme, perang siber, kemajuan Cina (China Charm Offensive), serta kerawanan keamanan di laut perbatasan.

Tingkat kerentanan terhadap terorisme, mislanya, saat ini menjadi sangat tinggi di semua negara di dunia, tak terkecuali negara adidaya.

Hadi memaparkan, terorisme menjadi ancaman global yang ditempatkan sebagai musuh bersama yang harus diperangi.

Ia mengatakan, terorisme kemudian digunakan sebagai alat pengkondidian wilayah. Dalam beberapa kasus sejumlah aktor, baik negara maupun non-negara ikut terlibat. 

Rekomendasi Untuk Anda

"Situasi yang terjadi semakin kompleks, arus globalisasi informasi yang semakin tidak mungkin dibendung. Melalui berbaga medsos dan jaringan media internet lainnya, host dr kelompok teroris telah mampu secara cepat menyebarkan pengaruh dan bahkan mengaktifkan sel tidur atau pun simpatisannya di seluruh dunia demi mendukung kepentingannya," papar Hadi.

Potensi ancaman lainnya adalah perang siber (cyber warfare).

Hadi menyebutkan, ancaman tersebut harus dihadapi pada era informasi di mana dunia maya dihuni hampir 2/3 manusia modern. Hal itu, menurut dia, perlu pengamanan lebih.

"Keamanan dimensi siber harus menjadi pertimbangan utama dalam penyelenggaraan fungsi-fungsi pertahanan dan keamanan nasional," kata dia.

Hadi juga menyoroti soal kerawanan laut perbatasan sebagai salah satu ancaman keamanan negara.

Beberapa contoh kasus, seperti maraknya aksi perampokan bersenjata dan penculikan di wilayah perairan Filipina Selatan, yaitu sekitar Laut Sulu. Laut Sulu merupakan laut perbatasan antara Indonesia, Malaysia dan Filipina.

"Terlebih lagi dengan kasus yang menimpa WNI pada Maret 2016 oleh kelompok Abu Sayyaf yang berbasis di Pulau Sulu dan Pulau Basilan. Pada kasus ini, tanggung jawab bahkan telah mutlak berada di tangan TNI," kata Hadi.

Adapun, bentuk kejahatan lainnya yang disoroti dan dianggap merugikan Indonesia adalah illegal fishing serta penyelundupan barang, manusia, senjata dan narkoba.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas