Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Cegah Pembengkakan di Kaki, Abu Bakar Baasyir Cuma Pakai Kaus Kaki Ketat

Dibanding masalah pembebasan, keluarga justru lebih khawatir mengenai kondisi kesehatan pendiri Ponpes Ngruki, Surakarta

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Amriyono Prakoso
Editor: Sanusi
zoom-in Cegah Pembengkakan di Kaki, Abu Bakar Baasyir Cuma Pakai Kaus Kaki Ketat
Tribunnews.com/HO
Abu Bakar Baasyir 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sebuah cuitan dari Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia, Tengku Zulkarnain mengenai adanya pembebasan Abu Bakar Baasyir sempat menjadi perhatian publik beberapa hari lalu.

Apalagi, dia mengatakan pimpinan Majelis Mujahidin Indonesia itu sudah dalam perawatan di RSCM, Jakarta.

Menurutnya, pemerintah sudah mengabulkan permohonan pembebasan bersyarat dari pihak ulama dan pengacara.

Namun begitu, hal tersebut dibantah oleh anak dari Baasyir, Abdul Rochim Baasyir yang mengatakan saat ini ayahnya masih mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat.

Masa tahanan Baasyir akan habis di tahun 2024 jika dikurangi remisi yang selalu didapatkan olehnya.

"Tidak ada pembebasan. Beliau masih di Gunung Sindur," ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Senin (26/2/2018).

Abdul juga mengaku sempat terkejut atas cuitan tersebut dan langsung meminta klarifikasi terhadap yang bersangkutan.

Rekomendasi Untuk Anda

Hanya saja, saat ditanya, Tengku Zulkarnain hanya mendapat kabar dari kawannya yang lain.

Dibanding masalah pembebasan, keluarga justru lebih khawatir mengenai kondisi kesehatan pendiri Ponpes Ngruki, Surakarta, Jawa Tengah itu.

Pembengkakan di kakinya, tidak diberikan pengobatan secara baik.

Kata Abdul, saat ini Baasyir hanya memakai kaus kaki ketat untuk mencegah pembengkakan bertambah parah.

"Hanya dikasih kaus kaki yang sangat ketat supaya tidak bertambah bengkak kakinya. Sudah itu saja. Tidak ada perawatan intensif," ujarnya.

Saat ini, Baasyir sudah mulai belajar berolahraga dan berjalan serta mengikuti kegiatan-kegiatan di penjara, meski tetap harus masuk ke ruangan isolasi.

"Beliau memang kakinya harus terus bergerak. Tapi, ya namanya orang sudah tua, pasti terbatas geraknya," kata Abdul.

Selama berada di penjara, pria yang akrab disapa ustaz Abu itu seringkali meminta buku tafsir dan hadist untuk dibaca di dalam tahanan.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas