Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Soal Polemik Novel Ghost Fleet, Anis Matta: Indonesia Bisa Kembali Menjadi Leader ASEAN

Calon Presiden dari PKS Anis Matta menilai polemik novel Ghost Fleet positif dan menjadi alarm bagi Indonesia.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Soal Polemik Novel Ghost Fleet, Anis Matta: Indonesia Bisa Kembali Menjadi Leader ASEAN
Tribunnews/Herudin
Anis Matta. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Calon Presiden dari PKS Anis Matta menilai polemik novel 'Ghost Fleet' positif dan menjadi alarm bagi Indonesia.

“Yang lebih penting, apa yang harus kita lakukan mulai dari sekarang? Jika skenario berjalan linear, dan kita tidak melakukan apa-apa, maka kita akan menjadi pelanduk yang terinjak-injak, diantara dua gajah yang bertarung,” ujar Anis Matta, Minggu (25/3/2018).

Menurut Anis, pada tahun 2030 jika Amerika Serikat (AS) tidak melakukan interupsi maka akan terjadi crossing line, persimpangan dimana Cina diprediksi akan menjadi kekuatan nomor 1 dunia mengalahkan AS, baik dari sisi ekonomi, teknologi dan militer.

"Dua gajah besar itu akan bertarung memperebutkan hegemoninya atas dunia. Bagaimana kita meresponnya, menjadi sangat menentukan masa depan Indonesia," ujar Anis.

Baca: Ini Sebab Sosok Anis Matta Dicintai Kader PKS Menurut Fahri Hamzah

Anis menambahkan, yang lebih penting adalah Indonesia menyiapkan diri menjadi faktor "interupsi" itu.

"Indonesia harus mampu memimpin dan menggalang ASEAN untuk menjadi kawasan yang lebih independen dan mampu mengartikulasikan kepentingannya sendiri," katanya.

Rekomendasi Untuk Anda

ASEAN, lanjut Anis, jangan terombang-ambing dalam tarik-menarik Amerika-China.

"Apalagi, jika China benar-benar menjadi kekuatan notor 1 dunia, maka dominasi Negeri Tirai Bambu itu di Asia akan mutlak," katanya.

Menurut Anis, bersama ASEAN Indonesia harus menjadi pemain global, dan menjadi faktor "interupsi" yang mencegah terjadinya perang antara dua kekuatan adidaya dunia tersebut.

"Sebab pada dasarnya masyarakat dunia tidak menginginkan terjadinya perang," katanya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas