Bonnie Triyana: Ajaran Bung Karno Masih Relevan Hadapi Geopolitik Modern
Bonnie Triyana menilai ajaran Bung Karno tetap relevan di tengah dinamika geopolitik global dan penting bagi generasi muda.
Penulis:
Chaerul Umam
Editor:
Acos Abdul Qodir
Ringkasan Berita:
- Bonnie Triyana menilai ajaran Bung Karno masih relevan dalam menghadapi dinamika geopolitik modern.
- Bulan Bung Karno 2026 disebut menjadi ruang edukasi sejarah dan penguatan pemahaman generasi muda.
- Kegiatan di Museum Multatuli juga diharapkan berdampak pada penguatan budaya dan ekonomi lokal.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan (PDIP), Bonnie Triyana, menilai pemikiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, masih relevan dalam membaca dinamika geopolitik modern yang semakin kompleks dan tidak pasti.
Ia menilai dunia saat ini membutuhkan keteguhan sikap dalam menghadapi perubahan politik global yang berlangsung cepat, termasuk dalam konteks hubungan antarbangsa.
Dalam pandangannya, Bung Karno telah memberikan contoh melalui sikap politik luar negeri yang tegas dan berpihak pada kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah, salah satunya melalui Gerakan Asia-Afrika yang menjadi tonggak solidaritas negara-negara Global South.
“Banyak ajaran Bung Karno yang masih relevan sampai hari ini,” kata Bonnie Triyana, Minggu (31/5/2026).
Bulan Bung Karno dan Pendidikan Sejarah Publik
Menjelang pelaksanaan Bulan Bung Karno 2026 yang digelar pada Juni ini, Bonnie menekankan pentingnya momentum tersebut sebagai ruang edukasi sejarah, khususnya bagi generasi muda.
Ia menilai pemikiran Bung Karno tidak cukup hanya dipahami secara formal, tetapi perlu dihadirkan melalui pendekatan budaya yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Menurutnya, pendekatan budaya populer menjadi salah satu cara agar generasi muda lebih mudah memahami sejarah bangsa tanpa jarak emosional.
“Pendekatan budaya populer menjadi penting hari ini karena dengan jalan itulah kita bisa merangkul kalangan muda untuk mencintai sejarah bangsanya,” ujarnya.
Baca juga: Laporkan Film Pesta Babi ke Polda Metro, Mama Yasinta Bantah Dibiayai Pengusaha ke Jakarta
Museum Multatuli di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, dipilih sebagai pusat kegiatan Bulan Bung Karno 2026. Lokasi ini dinilai telah berkembang menjadi ruang publik budaya yang mempertemukan komunitas sejarah, seni, dan generasi muda dalam satu ekosistem kreatif.
Sejak berdiri pada 2018, museum tersebut tidak hanya menjadi ruang edukasi sejarah kolonialisme, tetapi juga ruang dialog dan pertukaran gagasan lintas komunitas.
Jejak Sejarah dan Rangkaian Kegiatan
Bonnie juga menyinggung kedekatan historis Bung Karno dengan wilayah Banten yang tercatat dalam sejumlah kunjungan penting, mulai dari Bayah pada 1943, kunjungan masyarakat pada 1951, hingga pidato Front Nasional di Rangkasbitung pada 1957.
Rangkaian Bulan Bung Karno 2026 sendiri akan diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari pameran foto, arsip dan komik Bung Karno, diskusi pemikiran, hingga Festival Kuliner Mustikarasa yang terinspirasi dari buku resep gagasan Bung Karno.
Selain itu, akan digelar pula kegiatan istigasah haul Bung Karno di Menes, Kabupaten Pandeglang, yang dikenal sebagai salah satu pusat spiritual di Banten.
Baca juga: Hari Lahir Pancasila: Presiden Prabowo Jadi Inspektur Upacara di Kemenlu
Dimensi Sosial dan Ekonomi Lokal
Ketua panitia Ubaidilah Muchtar menyebut kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai agenda kebudayaan, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan ekonomi.
Pelibatan UMKM, seniman lokal, dan komunitas daerah menjadi bagian dari upaya menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar selama penyelenggaraan kegiatan berlangsung.
Ia menegaskan bahwa Bulan Bung Karno tidak dimaksudkan sebagai milik satu kelompok politik tertentu, melainkan bagian dari ruang kebudayaan nasional.
“Bung Karno tidak hanya milik PDI Perjuangan, tetapi milik seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.